Birdwatching di Kampus itu MENYENANGKAN

Menurut Perrins and Middleton (1993), burung merupakan satwa yang persebarannya sangat luas di dunia. Lebih dari 9000 spesies burung tersebar di bumi di berbagai tipe habitat. Burung ada yang hidup di habitat darat, laut, rawa, dan air tawar. Betapa luasnya bumi. Dan betapa kita bisa melihat burung di sekitar kita dengan mudahnya. Birdwatching itu menyenangkan. Karena kita bisa dimana saja melakukannya. Dan selalu ada saja yang bisa diamati dari burung. Warna bulunya yang indah, cara terbangnya, nyanyiannya yang merdu, bagaimana dia menyesap madu, maupun bagaimana mereka memakan padi yang sedang dijemur di depan rumah [ini kasus di pemukiman pedesaan dekat sawah dan mata pencaharian penduduknya mayoritas petani].

Birdwatching bisa dimana saja. Salah satu tempat favoritku untuk birdwatching adalah kampus. Kadang pergi ke kampus memang berniat untuk birdwatching. Kadang ke kampus untuk kuliah, praktikum, bertemu dosen, tapi masih tetap bisa mengamati burung juga di sela-sela kegiatan. Bagiku selalu menyenangkan melihat burung yang berkelakar di tajuk pohon atau berebut makanan sisa di piring-piring bekas pakai di kantin. Percaya atau tidak, kadangkala aku menertawakan tingkah mereka. Dan berujung pada ditertawakan oleh beberapa teman. Karena, sikap seperti ini memang aneh di kalangan mahasiswa. Ayolah, menertawakan burung itu konyol. Tapi mungkin saja tidak, bagiku itu wajar.

Mengapa di kampus? Karena ke kampus itu dekat. Dan bisa mengajak banyak teman. Kadangkala ketika birdwatching bertemu dengan akademisi [dosen, laboran, OB kampus, tukang kebun, etc.] dan terlibat obrolan tentang burung. Pernah suatu kali, aku dan teman-teman birdwatching di fakultas tetangga. Yang notabene hampir tidak ada mahasiswanya yang melakukan seperti yang sedang kami lakukan. Seorang laboran berjalan mendekati kami. Mungkin beliau melihat binocular dan buku yang kami bawa ‘’Ngapain tuh anak-anak keker-keker disini?’’. Kurang lebih, beberapa penggalan obrolan kami seperti ini.

‘’Sedang apa, mas, mbak?’’ Tanya bapak laboran

‘’Sedang pengamatan burung pak,’’ jawab kami *tepatny salah satu di antara kami

‘’Owh, burung ya. Dulu saya sering melihat….’’. [*bla…bla…bla…. Dst, menceritakan burung yang pernah beliau lihat dan perilakunya*], ‘’itu namanya burung apa ya mas? Dia suka makan ayam,’’ kata beliau

‘’Seperti ini pak?’’ kami menyodorkan buku sambil menunjukkan bagian gambar burung raptor dan membiarkan bapak laboran mengingat-ingat sendiri.

——à dialog terus berlanjut hingga bapak tersebut sadar bahwa beliau harus segera pulang, sedangkan kami melanjutkan perjalanan menyusuri kampus tetangga

Lalu, bagaimana jika kita hendak pengamatan burung dengan niat belajar? Maksudku, kita memang sedang ingin mengamati. Atau memang ingin menarik minat junior kita? *konteks ini ada karena aku ikut organisasi juga

Alat-alat yang diperlukan untuk memulai pengamatan di sekitar kampus antara lain:

  1. Binocular/monocular : untuk melihat lebih jelas burung-burung, dengan melihat lebih jelas kita dapat mengidentifikasi jenis burung tersebut.
  2. Alat tulis, berupa buku sketsa/tulis, pensil, penghapus lan sak panunggalanipun : setelah kita melihat burung tersebut dengan jelas, kita bisa menyeketsa burung tersebut. Sketsa tersebut diberi keterangan warna bulu dan bentuk morfologi burung yang kita amati[paruh, leher, kaki, sayap, etc.]. Tujuannya untuk identifikasi selanjutnya. Tidak semua orang bisa mengingat jelas apa yang sudah dilihat, maka dari itu dia mencatat. Begitu pula fungsi sketsa ini. Dengan sketsa kita bisa memahami detail dari burung tersebut.
  3. Buku identifikasi/panduan lapangan yang sesuai/relevan: maksud sesuai disini adalah buku yang digunakan sesuai dengan lokasi pengamatan. Ehemmm, maksudku jika kita pengamatan di Kalimantan-Jawa-Sumatra-Bali, kita bisa gunakan panduan lapangan untuk pulau-pulau tersebut. Jika pengamatan di daerah Wallacea, tentu menggunakan  buku panduan burung daerah Wallacea. Nah, buku panduan ini untuk identifikasi jenis yang sudah kita amati dan sketsa. Jika gambar-gambar pada buku ternyata berbeda dengan yang kita lihat, jangan lupa membaca deksripsi jenis yang juga tersedia di buku tersebut. Jika usut punya usut ternyata tidak ada yang sama, jangan-jangan itu new-record atau new-species. Nah, sketsa itu bukti record kita.
  4. Kamera : lebih mantap kalau punya kamera, bisa mendokumentasikan burung yang kita lihat. Birdwatcher yang juga suka fotografi atau fotografer yang suka birdwatching bisa memanfaatkan waktu untuk menjalani dua hobinya. Tapi biasanya kalau sudah ada kamera super-termos [lensa super panjang dan ‘wah’ itu] sketsa tak digunakan lagi. Kalau kamera kita biasa-biasa saja, alias poket, kita bisa menggunakan digiscoping. Digiscoping ini membutuhkan bantuan lensa [dari binocular atau monocular] agar burung yang kita foto bisa lebih jelas terlihat dan focus. Dan ini tidak mudah juga kawan, perlu latihan juga. Bayangkan jika burung yang hendak kita foto sangat lincah, kita harus lebih lincah dan cekatan juga.
  5. Tripod : tripod ini bisa digunakan untuk menyangga monocular. Yah, monocular memang seharusnya memakai tripod. Selain itu, bisa digunakan untuk menyangga kamera. Biasanya fotografer burung juga menggunakan kain kamuflase. Mereka berkamuflase sambil membawa kamera dan tripod. Mengincar dan berdiam diri sampai ada burung yang mendekat daaannnn… JEPRET… nice pict, gan!!
  6. Pakaian yang nyaman dan berwarna gelap : tentu memakai pakaian yang nyaman akan membuat birdwatching makin menyenangkan. Nah, lalu ada apa dengan pakaian gelap? Ini salah satu bentuk kamuflase. Dan seperti yang kita ketahui bahwa burung memiliki mata yang sensitive terhadap warna-warna terang. Bisa dibaca di buku-buku anatomi hewan, kok.
  7. Tas : untuk apa? Tas berguna untuk membawa perlengkapan dan alat-alat pengamatan. Tak lupa membawa makanan ataupun minuman dan jas hujan (kalau-kalau hujan).
  8. Makanan dan minuman : sekali dua kali istirahat, akan lebih nikmat sambil icip-icip bersama teman-teman. Sambil mendiskusikan atau mengidentifikasi hasil pengamatan. Josss!! Guyub!!

Perlengkapan di atas sudah cukup jika hendak pengamatan di kampus dan tanpa menginap/camping. Waktu pengamatan yang optimal biasanya pada pagi hari dan menjelang sore. Nah, waktu-waktu tersebut biasanya jam-jam ‘hangat’ dan ‘mencari makan’. Jadi, kita bisa lebih banyak menjumpai burung.

Cukup banyak referensi tentang ‘how to birdwatching’. Tiap orang memiliki gaya atau kesukaan masing-masing. Ada yang lebih suka berjalan pelan-pelan. Ada yang lebih suka berhenti/duduk lama sambil mengamati sekitar ditemani makanan dan minuman. Kalau info ini masih kurang bisa ditanyakan pada mereka yang biasa pengamatan atau mbah Gugel. Oke kawans.. Semoga bermanfaat.

Birdwatching

Pengamatan/Keker-keker mameennn

Blusukan Di Kampus

Sudut hijau di kampusku

Diskusi

Diskusi

KEEP BIRDING MAMEENN

KARENA BURUNG LEBIH INDAH DI ALAM!!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s