Bunker Tua di Tepi Desa

Aku memasuki bunker di ujung desa tua bersama seorang lelaki tua dan salah satu anak lelakinya. Saat pintu bunker terbuka, hawa dingin menyembur. Aroma lembab terhampar di sekitarku. Lelaki tua itu mempersilahkanku masuk. Ia memimpin di depan, aku berjalan di belakangnya. Sedangkan anak laki-lakinya berjalan di belakangku. Suasana sangat gelap. Penerangan yang kami bawa hanya sebuah lampu badai dan senter yang kupegang dan sebuah lilin. Bunker itu memiliki lorong yang sangat panjang. Aku belum pernah memasuki bunker, aku tak tahu jika bunker seperti ini. Jalannya menurun, bertangga, dan licin. Udaranya lembab, temboknya seolah berlendir. Saat aku memandang ke tangga yang kutapaki, dengan jelas aku bisa melihat baju-baju yang nyaris tertimbun tanah. Tulang-tulang manusia juga berserakan.

‘’Kita hanya bisa memasuki bunker ini pada tanggal 29 Februari saja,’’ celetuk lelaki tua.

‘’Mayat-mayat ini harus segera dikremasi, agar arwah mereka tenang. Dan kita tak perlu mengungsi pada tanggal itu,’’ anak lelaki tua itu menimpali.

Aku hanya mengangguk. Semua ini sangat gila. Mengapa aku bersedia mengambil kalung permata di ujung lorong ini untuk mereka? Padahal aku baru mengenal mereka 3 hari yang lalu.

‘’Ingat, waktu kita hanya sampai senja. Jika kita bisa keluar dari bunker ini hingga senja, kesempatan kita keluar adalah 4 tahun lagi. Dan kita tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam sini. Arwah-arwah ini selalu meminta teman baru,’’ lelaki tua itu mengingatkan kami. Membuat jantungku berdegup kencang dan sangat tak nyaman. Aku berharap ini hanya mimpi. Tapi ini tidak seperti mimpi.

Bau busuk mulai tercium saat memasuki lorong lebih dalam lagi. Aku mulai merasa tak nyaman. Tak ada mayat di sini. Semuanya sudah menjadi tulang belulang.

‘’Apa kita masih jauh?’’tanyaku mulai tak sabar.

‘’Sekitar 1 jam lagi, kita akan sampai. Itupun jika tidak ada yang mengganggu kita,’’ jawab lelaki tua dengan santai. Namun, kesantaiannya membuatku tercekat. Ya Tuhan, 1 jam itu sangat lama jika harus di tempat seperti ini.

Kami terus berjalan. Berulang kali aku melongok jam tanganku. Meskipun rasanya sudah berjalan sangat jauh dan lama, ternyata baru 5 menit waktu yang kami lewati. Apakah waktu juga melambat di dalam bunker kematian ini? Kalung permata itu berjarak 55 menit lagi. Dan kami bertaruh nyawa untuk sebuah kalung permata dan keselamatan penduduk desa. Dan aku teringat Robin. Baru aku sadari, aku membutuhkannya di sini. Setidaknya untuk menenangkan hatiku. Aku menyesal tak meninggalkan pesan apapun saat berangkat ke desa ini. Aku sungguh menyesal.

—bersambung—

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s