Di Pintu Masuk Nguik

entrance nguik

Dikelilingi hijau. Dihibur nyanyian burung-burung. Yang mencari makan, yang mencari pasangan, berjuang untuk anak-anaknya, berjuang demi cintanya. Angin sesekali membelai lembut daun-daun bamboo. Bergemerisik. Bunga bamboo menggelantung di atas kepalaku. Seperti mahkota hijau yang menaungi diri dari sinar matahari. Suara serangga-serangga berdesing di kedua telinga. Semut-semut sibuk dengan hasil buruannya. Merayap sendiri atau bersama-sama.

Mataharipenuh semangat berbagi hangat. Kadang awan kapas yang putih menyela dengan riangnya.sejenak menguning, sejenak membiru. Seperti langit biru yang dicumbuinya pula. Batara Bayu menghembus, mengalunkan lagu. Dedaunan yang menari, menyanyikan gerimis dari langit. Membiaskan suara dan membuat telinga tertipu olehnya, mengalihkan pandangan mata menuju ke atas langit yang ceria dengan biru-putihnya.

Di lorong bumi, di bawah sana. Apakah yang dilakukan para anak manusia itu? Prajurit yang berbalut warna senja,jingganya dan ungunya. Seperti senja kemarin yang mempesona jiwa dengan sapuan warna-warna aneka nan lembut, dan beberapa tegas membara.

Gerimis turun 30 menit. Lalu reda. Burung dan serangga kembali beraktifitas. Langit biru mulai menampakkan kerupawannya di sisi barat. Angin masih dingin berhembus. Dinaungi bawah tajuk pepohonan hijau nan sejuk.

Para penelusur berbasahan. Gesture tak lagi menawan. Mereka Nampak kelelahan. Apakah mereka merasakan beban? Adakah terselip kebahagiaan? Bahwa penelusuran di bawah bumi itu tak setiap orang mau menjalani dan menikmati.

Oh.. dunia.. Oh… hati… Oh… Jiwa..

Adalah rasa rindu, menyusup dan menghujam tajam di lubuk hati.  Bahwa masih ada cita-cita dan asa tersisa untuk menggambarkan tiap lekuk lorongnya dan bercinta dengan tali yang membelit nyawa.

Rasa tanpa sadar menuntun menuju alam mimpi. Sebuah dunia yang tak mau diingat ketika aku kembali ke alam nyata. Aku ditolak membangun impian di alam mimpiku. Mungkin karena aku bisa mewujudkannya di dunia nyata yang fana. Aku mencoba mencari, menerka. Menjadikan rumput yang hijau sebuah memoarku kepada beberapa lukisan cahaya indah yang pernah kusaksikan. Dan beberapa warna merah menyala yang menari-nari bersama hijaunya makhluk berklorofil. Sebagian kecemasan muncul di kemudian gelap malam. Apa yang bisa aku lakukan? Apa itu penting dan berguna? Adakah yang merasa aku berguna? Adakah yang merasa kehilangan, kesepian, atau sekedar mengenang dengan sepenuh hati, ketika aku akhirnya benar-benar meninggalkan dunia yang fana ini?

Aku takut dan sedih. Jika tak seorangpun peduli. Apakah aku memiliki arti, hidup di dunia ini? Ataukah aku hanya ornament gua yang rusak terinjak tak berarti?

Aku selalu berkata aku tak peduli. Tapi, aku memikirkannya dan menggali solusi. Meskipun pada akhirnya dan seringnya semuanya tak berguna, tanpa arti, dan sia-sia belaka.

Tidak akan pernah kubiarkan kau pergi. Kamu yang menari-nari riang bersama angin, mengejar ujung pelangi, membiarkan wajah dihujam geriis dari langit. Tersenyum melihat burung-burung terbang bebas. Dan bertanya pada pohon, bagaimana caranya bisa menjadi sepertinya. Aku tak akan membiarkannmu pergi dariku. Sisiku yang entah harus kusebut  apa. Sisi yang dianggap aneh atau kekanak-kanakan. Bagian terlugu dari diriku untuk menikmati dunia yang serba bergerak cepat dan kompleks. Dunia yang menyimpan konspirasi dan misteri. Tapi, misteri alami itu indah dan membuatku ingin mencari titik terangnya.

Aku ingin menikmati suatu suasana. Di sebuah bar, dengan  segelas kopi. Mendengar orang-orang di sekitarku tertawa. Dengan musisi blues yang menyanyikan lagu A Long Walk –nya Tango with Lion. Lampu-lampu temaram jingga dan merah maroon. Sesekali penyanyi wanita itu tersenyum dan menatapku ketika beberapa syair yang dalam itu terucap dari mulutnya.

Aku mengagumi yang terjadi di sini, hari ini. Dan tawa ceria, canda, dan sebesit luka. Tapi, tak ada yang mebuatku lebih bahagia ketika ucapan itu tertuliskan dalam suatu elektronika ajaib. Pun, aku merasakan hal samadari sumber energy yang berbeda. Jadi, bagaimana reaksi ini terjadi?

hijau

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s