Perjalanan 2 Oct. 2011-seSiung Pantai

Pantai Siung adalah salah satu pantai indah di Gunung Kidul. Selain berpasir putih, pantai ini terkenal dengan tebing-tebingnya yang memacu adrenalin dan indah pula. Tebing-tebing yang menjulang tinggi dan megah ini sering dipanjat oleh para climber. Hari ini, aku pergi ke tempat itu.

                Pagi-pagi pukul 8 kurang, temanku yang hendak aku ajak ke Pantai Siung mengirimkan sms, ‘’Nuri, aku telat, aku makan dulu,’’ lalu jawabku

“Pukul 9 sekalian saja ya,” dan begitulah janjian kami

Lalu aku mandi dan bergegas, pukul 9 pagi aku sudah ada di kampus. Dan dia juga, duduk sendirian di depan secretariat tercinta.

Akhirnya kami berangkat pukul 9.30 setelah terlebih dahulu menyiram taman dan meminjam binocular di secretariat. Perjalanan belum terlalu panas. Apalagi hari ini mendung. Meskipun tak cerah, setidaknya kami tidak merasa terlalu kepanasan.

Jalanan ramai kendaraan. Motor, mobil-mobil pribadi yang mewah, truk, bis pariwisata, dan sepeda. Hari Minggu banyak juga yang ingin berlibur. Perjalanan yang melelahkan dimulai dari Bukit Bintang, Patuk. Jalan yang menanjak dan berkelak-kelok membuat badan pegal-pegal. Asap kendaraan raksasa juga menghitam dan menopeng di wajahku. Untungnya aku menutupi sebagian wajah, terutama hidung. Setidaknya udara yang masuk ke paru-paruku tidak over-kotor.

Dua jam berlalu dan disinilah kami, Pantai Siung. Ramai….

Yang dilakukan pertama adalah parkir motor. Kemudian kami berjalan menuju sisi Timur pantai. Menaiki bukit kecil yang notabene merupakan lading penduduk. Tambahan lagi, musim kemarau ini sangat kering dan daerah Gunung Kidul benar-benar kerontang. Dominasi warna adalah coklat tanah kering. Sedangkan dedaunan entah sedang mengadakan konser dimana. Mungkin world tour. Sampai di titik teratas, kami duduk dan mengawasi sekitar. Melihat burung-burung yang tiba-tiba menarik perhatian kami. Halcyon chloris atau Cekakak sungai, ada 2 ekor. Mereka mungkin sedang berkencan layaknya muda-mudi yang datang ke pantai ini. Aku kebetulan saja melihat mereka saat sedang mengamati tebing menggunakan binocular. Kemudian kami melihat Egretta sacra alias Kuntul Karang yang berwarna abu-abu. Mereka sedang mencari makan di batuan karang pantai sisi Timur Pantai Siung yang banyak pengunjung. Pantai sisi Timur ini memang sepi karena medan menuju kesana terjal dan mungkin tak seindah Pantai Siung yang berpasir putih. Namun, justru menjadi tempat nongkrong burung-burung. lalu kami melihat 2 ekor burung entah apa yang hilir mudik terbang di atas permukaan laut. Dari bentuk badannya mengingatkanku pada Alap-alap Sapi yang sedang aku cari dengan nama kerennya Falco moluccensis . Namun aku tidak yakin karena hanya melihat siluet tak jelas. Kami juga melihat 2 orang akamsi yang sedang mencari entah apa di pinggir pantai di daerah karang. Saat ada ombak dating mereka menghindar lalu mengejar-ngejar sesuatu. Mungkin kepiting.

Pukul 13.00 kami berpindah tempat. Kami menuruni bukit itu. Lalu menunaikan kewajiban. Perjalanan kami lanjutkan ke  area tebing panjat yang berada di sisi Barat Pantai Siung. Batu-batu cadas nan eksotis sangat memukau dan menggoda untuk digauli. Kami mencari di sisi lain yang lebih sepi. Kata temanku, dia pernah melihat Alap-alap Sapi di tempat itu, meskipun kemudian dia meralat. Bukan, tapi Walet Sapi. Yah… mirip… hahahaha…

Kami memang tidak berjumpa dengan si Alap-Sap, namun kami melihat 2 ekor Macaca fasicularis. Yang merasa terusik dengan kedatangan kami dan segera memberikan isyarat kepada temannya untuk…… entah untuk apa, aku merasa itu peringatan untuk berhati-hati. Lalu kami lanjutkan lagi menaiki dan menuruni bongkahan batu-batu. Memanjatnya, mengaguminya. Saat berada di antara tebing tinggi adalah hal menyenangkan. Rasanya badan ini sangat kecil dan hendak terhimpit. Bagaimana jika tiba-tiba gempa dan tertimpa runtuhan batu yang tajam dan super ini???

Waktu sudah menjelang sore, maka kamipun memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan menuruni tebing, kami berjumpa dengan 2 ekor kelelawar. Dan kami juga bertemu dengan kawanan Macaca. Heran, seringkali yang aku jumpai itu berdua saja.

Pantai sedang dikeruk nampaknya. Ada pelebaran untung kapal singgah. Karang dibor menggunakan mobil monster pengeruk alias bulldozer. Selain dikeruk karangnya yang notabene untuk nelayan setempat. Ulva sejenis ganggang yang dieksploitasi untuk keripik juga dikeruk. Katanya, jumlahnya semakin memprihatinkan. Ekosistem semakin rusak. Ulah siapa? Manusia juga, dengan bantuan karya manusia bernama ilmu. Ilmu ngawur.

Pulang, pulang, kembali ke Jogja.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s