Sudut Lingkaran K (CK) di penghujung malam

Aku gila. Atau biasa saja? Ini lewat tengah malam dan ke CK sendirian. Duduk di depan toko memupuk harapan tak berkesudahan. Ini gila. Ada cara lebih baik untuk menanggalkan rasa gundah dan gusarku. Tapi aku terlalu enggan. Oh, Tuhan. Bolehkah aku bertindak sedemikian?

Sudut ini terlalu ramai, menurutku. Aneh, tapi tak cukup mengherankanku. Toko yang buka 24 jam mungkin memang akan lebih ramai di kala malam. Heran? Tidak juga. Sudah kukatakan bukan? Aku hanya ingin berkata-kata saja. Semoga tidak sia-sia.

Aku melihat orang-orang. Datang sendiri atau bersama-sama. Langsung pergi, dan beberapa tetap tinggal di depan toko. Berbincang. Sementara aku sibuk menulis memo di hape-ku. Orang gila itu datang dengan membawa lembaran kertas. Tertawa-tawa dan berbicara sendiri sambil mencari-cari entah apa di tong sampah. Membukanya, lalu menutupnya lagi. Tanpa memperoleh apapun untuk dibawa. Mungkin dia memang sekedar membuka dan menutup saja. mungkin dia lapar. Mungkin, seperti itulah kegiatan malam orang gila yang justru lebih damai dan bahagia. jauh lebih bahagia daripada aku sendiri. Ironis! Hidup waras hanya untuk merasakan kesedihan dan kegundahan.

Tuhan. Engkau Maha Baik. Engkau Maha Asyik. Engkau telah tunjukkan padaku, dan benar-benar melintas nyata di depan mataku. Bahwa, aku dan dia, tak akan seperti asaku. Aku sedih dan kecewa. Tapi aku sangat berterima kasih pada-Mu, Tuhanku. Karena telah membuatku tegas memutuskan apa yang harus aku lakukan. Yaitu mematahkan harap dan asa tentang aku dan dia. Dalam waktu yang singkat. Di penghujung malam menuju pagi. Terima kasih, Tuhanku.

Bahkan ketika dia berkata bahwa dia sejenak mengurusi urusan duniawi, melepas rindu. Dan aku tahu pada siapa rindu itu dituju. Aku melihatnya. Aku meyimpulkannya. Aku tak peduli jika itu tidak benar. Aku menganalisanya. Dan sungguh tega wanita itu. Mempermainkan banyak lelaki baik yang melingkupinya. Aku iri? IYA!! Mengapa Engkau sangat baik, Tuhanku? Dan kebaikan yang kau tunjukkan itu seringkali membawaku pada luka yang menyakitkan karena tak sesuai dengan keinginan. Di situlah, egoku sirna oleh kuasa-Mu. Bahwa Engkau Maha Mengetahui yang terbaik untukku. Entah apa rencana-Mu, Tuhan. Aku tak mengerti dan tak akan mengetahui hingga Kau menunjukkan padaku.

Apapun yang terjadi, aku berterima kasih pada-Mu Ya Rabb. Penjaga qolbuku.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s