Bagian 3 – Menyaksikan

Dalam masa penantian ini, semoga tak ada lagi yang terlewatkan. Memang waktu terus berjalan, berlalu, dan roda waktu itu berputar tanpa kehabisan energi. Mengapa? Entah!

Aku telah berkali-kali menyaksikan teman seangkatan diwisuda, adik angkatan beda setahun diwisuda, adik angkatan beda 2 tahun diwisuda, gebetan diwisuda, bahkan bapak dan ibuku diwisuda. Wajah dan senyum yang menyenangkan untuk dipandang. Meskipun kadang keesokan harinya aku melihat kegundahan karena mind-set mereka berkata ”aku pengangguran sekarang.” Oh, jangan sampai itu terjadi padaku. Nyatanya, dalam masa kekosongan inipun aku bukan pengangguran. Memang apa yang aku usahakan dan tulis belum menghasilkan materi berupa uang atau rekaman atau buku. Tapi aku terus berusaha agar semua usaha ini tak akan jadi usaha sia-sia belaka. Biarpun dikatakan aku gagal move on dari Jogja dan tak melakukan apa-apa, ah biar saja. Itu hanya ketidaktahuan yang sok tahu.

Well, kembali ke perihal menyaksikan.

Aku menyaksikan seorang sahabat yang berusaha menyelesaikan ensiklopedianya. Eum.. maksudku naskah skripsinya yang seperti ensiklopedia. Penelitiannya memang mulai dari sebelum penelitianku dimulai. Dan sudah dimulai sebelum kawan-kawan kami yang setahun kemudian baru memulai, akhirnya lulus terlebih dulu. Well…. Ada apa di balik semua itu?

Aku tidak tahu ada apa. Tapi, aku melihat dan menyaksikan usaha seorang manusia untuk memenuhi tanggungjawabnya. Satu-dua orang hanya bisa berkata ”Piye skripsimu?” ”Kapan maju?” ”Ndang dirampungke, bro” seolah dia tidak melakukan apa-apa. Yah, sebenarnya akupun tak tahu dia mengerjakannya segetol apa. Tapi setidaknya, akhirnya aku tahu segetol apa kerja keras itu.

Malam itu, aku sengaja tak pulang ke kosan. Karena tahu sobatku yang satu ini hendak mengerjakan mahakaryanya. Aku sengaja tak tidur juga. Kenapa? Aku hanya ingin mengganggunya, untuk menyemangati. Entah apa itu berarti atau tidak. Bagiku itu keisengan yang cukup menyenangkan. Karena diam-diam diriku termotivasi dengan sendirinya. Menyaksikan orang lain berusaha hingga titik darah penghabisan, merupakan salah satu caraku memotivasi diriku sendiri.

Yah, aku cuma bisa berkata ”Kalau ngantuk tidur” ”Kalau capek istirahat” dan selalu dijawab dengan ”Ora..ora…” ”Aku kudu kuat!”

Yang aku bisa hanya membaca majalah National Geographic tentang Black Hole dan minum teh hangat di pojokan. Sambil merasakan aura semangat yang membara. Oh, aku bukan cenayang. Tapi menakjubkan, aku bisa merasakan aura itu. Kadang juga aura defensif dari beberapa orang. Hahaha..

Lubang hitam, supermassive black hole. Teori relativitas Einstein. Cakrawala peristiwa/Event horizon. Neutron star collision. Katai putih/White Dwarf Stars. Ah, aku rindu mempelajari astronomi. Yang pernah dipelajari saja sudah mulai lupa.

Ah, ya begitulah..

Aku rasa, aku sudah memotivasi diriku sendiri untuk terus berjuang dan berusaha melalui usaha dan perjuangan orang-orang di sekitarku.

Dan, aku masih tetap ingin menjadi orang biasa yang kehadirannya tak terlalu dianggap ada. Namun, aku ada, mengamati dan siap memotivasi, bila perlu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s