Arga adalah surat ini

Arga,

Apa kabarmu? Aku membaca kicaumu di sebuah media sosial. Kamu sangat sibuk ternyata. Mungkin kesibukanmu sebanding dengan kesibukanku merindukanmu. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Jika itu tentangmu. Atau sekedar membaca obrolan lama kita di suatu media sosial. Atau memandangi foto kenangan kita di suatu tempat. Sebuah pulau indah di tepi negeri.

Apa kamu tahu, aku rindu di’aneh’kan olehmu. Aku rindu merengek seperti seorang gadis kecil kepada ayahnya. Padahal, harusnya aku lebih dewasa daripada kamu kan? Tapi, Arga, kamu adalah kawan, saudara, ayah, kekasihku. Secara sepihak tentunya. Mungkin kamu hanya menganggapku bayu di ujung senja yang kebetulan meniup telingamu di tepi sebuah danau.

Aku ingin melupakan rindu ini, Arga. Tapi, sulit ternyata ya. Aku punya kawan baru. Juga kawan lama. Aku tertawa bersama mereka. Tapi tetap saja, aku rindu kamu Arga.

Aku pernah terlalu menyuka seseorang selain kamu, Arga. Tapi, suka itu pudar. Topengnya silih berganti, Arga. Tidak sepertimu. Tanpa topeng, tapi sarat misteri. Aku mengenalmu, dan semakin dalam mengenalmu, semakin aku tidak tahu tentang kamu. Itu berbeda dengan bertopeng, lho Argaku.

Akupun terlalu riang bersama orang baru. Orang baru yang sebentar lagi tak akan menjadi baru. Baru-baru ini, dia bisa membuatku tertawa. Dan aku juga merindukannya. Tapi, rindu itu tetap saja lebih besar untukmu. Apa kamu ingat terakhir kita bertemu? Aku agak lupa. Tapi, kalau tidak salah saat kita bernyanyi bersama. Aku ingat lagu Keane itu. Somewhere Only We Know. Kadang aku berharap itu kode darimu untukku. Sekedar untuk membuatku bahagia pada imajinasiku sendiri.

Entahlah, Arga. Aku tak tahu, akankah kita bisa berjumpa lagi? Entahlah, Arga. Bagaimana jika kita berjumpa, saat itu aku menemukan seseorang yang bukan kamu. Dan begitu juga kamu? Apakah aku akan bahagia atau sebaliknya?

Kamu, Argaku. Akankah aku mencintamu selamanya? Bahkan jika pada akhirnya bukan denganmu aku berpadu? Bukankah aku wanita jahat tak berhati yang hanya bisa mengkhianati perasaan dan imajinasiku sendiri?

Arga, aku rindu.
Tapi aku tak berani mengatakannya padamu. Maka kutuliskan ini. Meskipun aku tahu, kamu tak akan membacanya. Karena, mungkin, bahkan kamu tidak tahu aku menuliskan ini. Kamu tidak akan bersin-bersin ketika aku sedang membicarakanmu dalam percakapanku sendiri. Ah, Arga. Aku hanya bisa berdoa untukmu. Kamu tak perlu tahu apa doaku itu.

Berbahagialah, Arga. Kamu sibuk berkarya.
Maafkan aku, Arga. Atas kesepihakanku ini. Dan jika ternyata aku mencinta selainmu, namun kamu masih terus menghujam hatiku.
Maafkan aku atas keserakahanku memanipulasimu secara egois di dalam duniaku sendiri.

Salam rindu sendu,

Egoku

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s