Anca, sebuah desa di tepi Danau Lindu : Part 3 -mungkin habis-

Well, maaf ndes. Ketika menulis ini, aku sempat sejenak pergi. Ini Sabtu malam, ndes. Dan aku barusan makan malam dengan teman wanitaku. Hanya berdua. Membicarakan kewanitaan. Kamu ada di situ juga kok, ndes.

Baiklah, aku lanjutkan ceritaku ini ndes. Tentang Anca.

Di Anca, kami yaitu aku dan kawan-kawan ekspedisiku tinggal di rumah penduduk. Namanya pak….. heum.. aku lupa.. Pak Thomas atau Pak Alex? Bapak ini punya seorang istri dan memiliki 2 putra. Yang pertama bernama Rexi, yang kedua aku lupa namanya, kami biasanya memanggilnya adiknya Rexi. Rexi punya HP lho, ndes. Meskipun disana tidak ada sinyal handphone, bahkan listrikpun dari genset. Sekarang, harusnya kamu tahu lho. Iya, kamu sedang disana sekarang. Itu sebabnya aku berduaan dengan teman wanitaku. Bahkan kalaupun kamu ada disini, belum tentu juga kita pergi berdua. Rexi setiap pagi menyanyikan lagu top hits 80an atau 90an. Lagunya jadul, siapa itu yang menyanyi? Kalau tidak salah Poppy Mercury atau siapa. Dan Betharia Sonata kalau tidak keliru. Suara Rexi bagus, ndes. Nyaring dan tinggi. Enak didengar. Rexi masih SD, kelas 5 atau 6. Aku lupa. Ternyata aku melupakan banyak hal, ndes. Aku sudah uzur nampaknya. Atau aku sebetulnya tidak terlalu menggubrisnya?

Anca Lindu 2

Anca Lindu 1

Anca itu menyenangkan. Diluar kegiatan eksplorasi, yang kami lakukan adalah memancing di tepi Danau Lindu. Danau yang luas dan indah itu, di atas permukaan airnya berselimut kabut. Kala matahari mulai naik sedikit demi sedikit, kabut itu hilang. Berganti awan-awan yang malu-malu menyipu bukit-bukit yang mengelilingi danau. Indah, ndes. Sungguh. Aku yakin kamu tahu itu. Kamu sudah membuktikannya, kan?

Burung-burungnya, ndes. Berisik merdu di pagi, siang, sore. Malam lebih hening dan damai. Dingin. Kamu pasti sudah tahu itu kan, ndes? Elang Bondol-nya sibuk sepanjang hari terbang kesana-kemari. Mengikuti arus udara panas membumbung ke angkasa dengan sayap terbentang dan kepak yang jarang. Soaring. Elang-ular Sulawesi juga sesekali menampakkan diri, menitiki teritori dan memburu mangsa sedap di bawah angkasanya yang luas dan biru. Ada lagi, burung yang aku tak bisa mengidentifikasi. Sungguh, aku bodoh! Burung-burung itu sangat berisik. Terbang kesana-kemari di tajuk pohon yang tinggi. Kamera tak sampai memotret. Binocular juga tak sampai ke tubuhnya. Tidak jelas, ndes. Kepudang-sungu Miniak. Oiya itu, ndes. Burung-burung lain yang aku jumpai disana dan sekitar Anca ada banyak. Mungkin aku tuliskan saja ya, ndes : Bilbong Pendeta, Pecuk-ular Asia, Julang Sulawesi, Layang-layang Batu, Cangak Merah, Kuntul Cina, Itik Gunung, Kuntul Besar, Kangkareng Sulawesi, Blekok Sawah, Kuntul Kerbau, Kacamata Laut, Srigunting, Kutilang, Gereja Eurasia, Gagak Hutan, Cirik-cirik Sulawesi. Banyak kan, ndes. Tapi itu masih kurang bagiku. Andai aku bisa melakukan pengamatan yang lebih intens.

Ohya, aku punya beberapa catatan kecil ketika disana. Aku tuliskan saja disini ya, ndes.

———————————————————————————————————–

Anca, 29 Maret 2013

Anca mengingatkanku pada Nunang. *Nunang ini tempat KKN-ku di Flores, ndes. Aku kesana tahun 2011.* Danaunya, orang-orangnya, kopinya. Langit birunya, terik mataharinya, angin sejuknya. Malamnya yang sunyi dan gelap. Kedamaian dan ketenangan. Tanpa sinyal HP. Memancing di danau. Kicauan burung-burung. Rexi bercita-cita menjadi dokter. Valin ingin melanjutkan SMA, meskipun ada keraguan akan ketidakpastian sekolahnya. Rexi kelas 3 SD. Valin kelas 3 SMP. *oh, ternyata aku cukup perhatian, aku menuliskan beberapa hal tentang Rexi. Mungkin karena aku tahu aku akan lupa dan menyesal karena tidak mengingatnya.*

———————————————————————————————————-

Oh, ada lagi ternyata catatan kecil lainnya, ndes.

———————————————————————————————————-

Anca, 31 Maret 2013

Akhir bulan Maret. Anak-anak Anca merayakan Paskah di gereja. Hujan turun deras. Apa kabarnya Reza, Wane, Juma yang tadi turun? Sepertinya pasukan baru akan naik lagi besok pagi. Camping belum terlaksana. Rencana pengamatan malam untuk Tarsius masih sekedar wacana. Hari ini cukup membosankan. Masalahnya tidak ada giat lapangan. Sedangkan lepiku tidak kubawa. Dibawapun percuma saja. Siang hari, listrik mati. Well, berasa KKN lagi. Tak terasa ini sudah 1 tahun sejak aku survey sulinganku. Ya Rabb, skripsiku bagaimana?

———————————————————————————————————–

Ndes, kok aku berbelit-belit ya? Bagaimana kalau aku sudahi saja cerita ini? Yasudah ya.. daaah….

IMG_8153

Danau Lindu

IMG_8892

Makan malam dengan menu ikan hasil pancingan di danau

IMG_7804

Olahraga kesukaan orang Sigi adalah voli atau sepak takraw

IMG_8103

Perahu Danau Lindu

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s