Menanti Dosen

Detik-detik menuju penyelesaian skripsi. Sebenarnya aku nyaris tidak terlalu memikirkan langkah ini-itu secara sistematis dan kaku seperti sebelumnya. Go with the flow. Mainstream sedikit dalam urusan ini. Lakukan yang harus dilakukan. Usahakan yang harus diusahakan. Selebihnya berdoa dan pasrah diri. Sambil mengoreksi, jika terjadi kekeliruan, langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jalan mana yang harus dijejaki agar tak salah tujuan lagi.

Ada orang yang cenderung menuliskan jadwalnya di tembok kamarnya. Tapi itu bukan aku. Ada juga orang yang menuliskan checklist ini-itu dengan spidol warna-warni, lalu memasangnya di tembok yang mudah terlihat di kamarnya. Dan itu bukan aku. Aku pernah mencobanya, namun gagal memotivasi. Justru membuat susah tidur yang berujung pada stress berkepanjangan. Aku menuliskan apa yang kurang. Cukup di notes yang bisa dibuka sewaktu-waktu. Itu lebih nyaman. Jadi, temukan caramu sendiri untuk memotivasi diri. Bukan mendorong diri untuk tertekan oleh tekanan yang sebenarnya tak perlu muncul saat itu. *ayolah, tertekan karena melihat kertas dengan sejuta list ini-itu? aku tak maušŸ˜€

Nah, sebenarnya aku mau cerita tentang penantianku untuk bertemu dosen pembimbing atauun dosen penguji.

Ada 3 dosen penguji skripsiku. Dosen Penguji (selanjutnya aku sebut DP) yang pertama adalah dosen pembimbingku. Beliau dari disiplin ilmu Ekologi. DP2 adalah dari Ornithologi dan DP3 dari Sistematika Tumbuhan.

Ketiga DP-ku ini bisa dikatakan orang supersibuk. Ada beberapa cara yang aku lakukan agar bisa berkomunikasi dengan beliau-beliau.

DP1 : Aku selalu menghubungi beliau melalui sms sebelum bertemu. Membuat janji. Mengingat beliau supersibuk *dekan, bro*. Kadang smsku tidak dibalas, atau sangat lama dibalas. Tapi, paling efektif sebenarnya langsung menuju kantor. Menanyakan pada Sekdek. Apakah beliau ada atau tidak? Sedang apa? Dimana? Sampai kapan? Harus superkepo demi informasi yang akurat. Jikalau Sekdek risih, itu resikoku menjadi mahasiswa, dan resiko Sekdek menjadi Sekdek. Bukan resiko sebenarnya, itu hanya tugas yang memang harus dilakukan. Pernah suatu hari, aku menunggu DP1. Dari mulai sekitar pk.13.30-17.00 WIB. Pukul 17.00 baru bisa bertemu, dan pertemuan itu hanya sekitar 5 menit saja. It’s ok. Lagipula, aku mahasiswa superselo. Pernah pula menunggu lama, hanya untuk mendapatkanĀ  nasehat berupa pertanyaan dan pernyataan betapa aku bukan orang yang bisa dibanggakan. Itu bukan masalah. Aku bukan orang yang mencari kebanggaan. Tapi, tetap berterima-kasih karena beliau mengingatkan bahwa kebanggaan itu ada di dunia ini. Mungkin, aku harus mencari jalur lain untuk itu. Tapi bukan disini.

DP2 : Dosen ini superasik menurutku. Sms selalu dibalas. Meskipun hanya ”OK”. Dulu DP2 adalah pembimbing seminarku. Bukan tipe dosen yang kaku. Aku ingat nasehat beliau, atau tepatnya doa.. Yang intinya ”Cepatlah lulus, mbak. Kasihan orangtua di rumah kalau kelamaan.” Itu supersejuk di hati. Sangat manusiawi, dan sangat memotivasi. Karena aku cukup apatis pada hal semacam akreditasi kampus. Terlalu absurd dan abstrak menurut imajinasiku.

DP3 : Dosen ketiga ini superwoles. Setiap menghadap beliau, beliau sedang asyik merokok. Kalau pikiran isengku muncul, kadang ingin berkata ”Pak, boleh bagi rokoknya?”. Saking wolesnya. Sms sangat jarang dibalas. Suatu hari, hanya tinggal 1 OK dari pak DP3. Aku sms, tidak dibalas. Aku datang ke kantor, beliau tidak ada. Sungguh ini kegundahan terbesar. Sampai bolak-balik ke kantor belum juga muncul. Akhirnya setelah jam makan siang aku kembali menengok kantor beliau. Dan beliau ada di tempat, sedang ada konsultasi dg seorang mahasiswi. Aku menunggu di luar kantor. Tegang dan gelisah. Sampai akhirnya 1 OK itu meloloskanku ke babak selanjutnya::::

PENDAFTARAN UJIAN

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s