Bagian 2 *belum habis, belum cukup

Aku berada di wadah ini. Sebagai air, aku mengikuti wadah yang menampungku. Dan karena aku adalah air yang berliter-liter volumenya, aku memilih wadah yang mampu menampungku. Setidaknya begitu gambaranku. Mengikuti system, tapi tentu yang bisa menerimaku pula. Atau entah apa istilah yang tepat. Ya, aku ada di sini. Beginilah peraturan di sini.

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Dan tiap orang memiliki haknya untuk memilih memijak bumi yang mana.

Di wadah ini, aku menuntut untuk mendapatkan sesuatu. Pada awalnya, semua terpaku tentang biologi dan penelitian. Kemudian meningkat, ingin memiliki sahabat.

Sampai pada suatu titik, aku menyadari bahwa wadah ini adalah aku, aku adalah wadah ini. Aku ingin membuat wadah ini tempat yang baik dan bagus bagiku dan bagi yang lainnya. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kemampuan diri. Mungkin bisa digambarkan bahwa wadah ini adalah gelas transparan/bening. Jika aku berwarna merah, itulah yang nampak oleh mata. Jika aku berwarna hijau, itulah yang terlihat. Jika aku adalah oksigen di dalam gelas, mata tak akan bisa melihatku. Namun, api bisa mendeteksi keberadaanku.

Di tempat ini aku belajar. Entah aku akan jadi apa jika tak berada disini. Dan aku masih merasa kurang memberikan sesuatu untuk tempat ini. Apakah tempat ini menuntutku untuk memberikannya sesuatu? Aku rasa jika aku bisa menjadi seorang yang peduli dan berkontribusi untuk alam, maka wadah ini akan tersenyum padaku.

Begitu banyak saudara baru yang seumuran atau dibawah umurku, lebih banyak lagi yang di atas umurku. Aku belajar dari mereka semuanya. Memposisikan diriku dimana ketika aku bersama siapa. Tanpa harus menjadi penjilat atau mencla-mencle. Karena hakikatnya, aku membaca situasi agar keberadaanku tidak menjadi pembuat resah. Mungkin ini bisa dikatakan sebagai animal instinct-ku, beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Lingkungan seumuran, lingkungan dibawah-umur, lingkungan diatas-umur. Mungkin dapat dikatakan ini adalah cara memulai mempraktekkan ‘’Memanusiakan manusia’’

Banyak yang menduga-duga seenaknya, karena ketidaktahuan mereka. Bahwa keterlambatanku disebabkan aku berada di wadah ini. Mungkin mereka hanya melihat dan menghitung waktu. Namun mereka tak mampu mengukur sesuatu yang memang tidak bisa ditakar atau dihitung atau ditimbang dengan alat ukur apapun. Jadi, kubiarkan saja dugaan mereka. Berkata ‘’Tidak’’ lalu melanjutkan hidupku. Jika mereka tak juga mengerti, biarkan saja. Mereka punya sudut pandang mereka sendiri. Mereka punya strandar hidup mereka sendiri. Aku hidup dengan yang aku punya, karena itulah aku adalah aku. Aku bukan mereka. Cukup sampai disitu. Dan aku tak perlu repot mengutuki nasibku atau ketidakmengertian mereka. Syukuri, jalani, nikmati hidupku.

Inilah jalanku yang aku tapaki. Aku tak bisa memaksamu ikuti jalanku. Begitupun sebaliknya.

Jika aku menapaki jalanmu, mungkin aku akan tersesat dan kehilangan diriku sendiri. Begitu juga sebaliknya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s