Menyendiri di Keramaian Malioboro

Difoto dari Monumen Serangan Umum 1 Maret

Gedung BNI (eoscheme, 2013)

Aku duduk di kursi beton dekat halte Trans Jogja. Orang-orang ramai melintas. Maklum saja, hari ini hari libur. Hari raya Waisak. Di depan sana seorang kakek duduk bersila sambil membetulkan letak kacamata hitamnya. Menatap lalu lalang, mungkin. Entah mata di balik kacamata itu menatap atau terpejam. Aku tak tahu pasti kemana bola matanya mengikuti di balik kacamata hitam itu. Kakek itu memakai celana coklat pudar. Jaketnya coklat bergradasi warna coklat lainnya. Bukan sebuah mode yang sengaja dibuat tentunya. Warna itu menandakan kepemilikan yang mungkin sudah lama dan sering dipakai kemana-mana. Kakinya melipat ke atas, kedua tangannya menyilang di atas lutut. Dia tetap terdiam.

Baru saja seorang nenek tua melintas di depanku. Satu kaki kanannya berjalan terseret-seret. Entah apa yang terjadi pada kakinya itu. Menawarkan salak pada arus manusia yang sambil lalu menelannya tanpa peduli. Seorang balita membawa kardus bekas air mineral, kardus itu disobek, lalu digunakan untuk menutupi kepala dan badannya. Badan mungil tersembunyi. Berjalan di kerumun manusia yang bersliweran.

Seorang nenek tua dengan kain jarik dan kebaya biru tua bermotif bunga dengan model klasik yang sederhana, agak lusuh, tapi tetap apik disandang. Dia menggendong cething besar di punggungnya. Mungkin nenek penjual salak juga, meskipun tak nampak barang dagangannya. Beberapa saat yang lalu dia nampak bercakap dengan nenek penjual salak lainnya, nenek yang berjalan terseret. Nenek berkebaya biru tua berbicara pada bapak tukang becak di depanku. Tak lama kemudian, bapak tukang becak menyeberangkan si nenek ke seberang. Aku tersenyum simpul. Tak peduli bahwa di sampingku sedari tadi sudah ada sebuah keluarga yang sedang menikmati makan sate beserta efek asap pemanggangan sate. Ternyata, keikhlasan sederhana itu selalu menyejukkan. Seolah hal itu sudah biasa terjadi dan lumrah. Bahwa tak ada embel-embel imbalan, jangankan terima kasih. Meskipun nenek itu berterima kasihpun, aku yakin bapak tukang becak tidak kemudian menantikan dan mengharapkannya. Karena hal itu alami dan wajar. Sesuatu yang tulus. Romantisme dan manisme Jogja tak sekedar antara sepasang kekasih. Namun, apatisme juga nampak nyata di sisi ini. Bahkan mungkin, aku sendiri pelaku apatisme itu.

Sesekali penjual minuman dingin berjalan menawarkan dagangannya. Aku sendiri tidak ditawari karena memang asik mengetik kata-kata di memo. Menikmati kesendirian dalam keramaian. Bersikap apatis. Tapi aku mengamati sesekali. Dan saat itulah seorang nenek datang menemuiku. Bajunya bagus, bermotif bunga. Aku mengira nenek ini adalah salah satu rombongan tamasya keluarga yang tersesat. Maka dari itu, aku mencoba memperhatikan apa yang ia katakan padaku. Sungguh, suaranya lirih. Aku bahkan hanya bisa menangkap beberapa kata yang ia lontarkan ‘’bapak’’ ‘’ibu’’ ‘’kakak’’ ‘’meninggal’’. Dan aku masih mencoba memahami sambil terdiam tak paham. Lalu, nenek itu dengan jelas berkata ‘’Jadi, mbak mau membantu saya berapa? Seikhlasnya saja mbak’’. Aku baru sadar. Ya Tuhan… Aku kira dia kehilangan rombongannya. Aku hanya menggeleng saja. Teringat nenek penjual salak yang berjalan dengan kaki diseret. ‘’Mbok ngomong kalau nggak mau ngasih mbak’’ begitu ungkapnya kesal. Aku hanya tersenyum getir. Antara bingung, merasa bersalah, dan bertanya-tanya bagaimana bisa. Karena aku masih teringat nenek penjual salak tentunya. Dan diam-diam menjadi sangat salut pada nenek penjual salak itu.

Akhirnya…. Orang yang ditunggu sampai juga di titik ini. Kami pun bergegas menikmati sudut Jogja lainnya. Aku sempat berharap akan melihat nenek yang berjalan terseret itu. Namun, ternyata tidak.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s