Anca, sebuah desa di tepi Danau Lindu : Part 1

 

Menuju Anca

Menuju Anca

Tahun 2013 adalah tahun penuh petualangan untukku, ndes. Memang aku meninggalkan kewajibanku untuk menyegerakan lulus di tahun itu. Yap, sebagaimana mahasiswa tua yang semesternya sudah sampai dua digit, patutlah cemas. Akankah mendapatkan surat cinta dari fakultas karena terlalu lama menjadi mahasiswa tua. Tapi ndes, itu tidak menyurutkan keinginanku memanfaatkan status mahasiswa ini untuk mencoba satu hal yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu. Adakah manfaatnya atau tidak. Ikut ekspedisi bersama Kopassus. Mendaftarkan diri saja hanya iseng semata. Demi ketidak-sesal-an yang sering muncul gara-gara enggan mengikutsertakan diri. Dan jadilah seperti tahun 2013 itu.

Aku sudah sampai di Sulawesi, ndes. Tepatnya di Sigi, Sulawesi Tengah. Cuaca disitu panas di siang hari. Kadang juga berangin. Di malam harinya agak gerah, tapi ketika berangin, cukup segar juga. Sigi ini kabupaten yang terbilang baru, ndes. Pemekaran dari kabupaten Donggala pada tahun… mmm… berapa ya? Aku lupa, ndes. Silahkan cari sendiri di Google ya. Tapi jangan heran jika kamu mengetikkan ‘Sigi, Sulawesi Tengah’ di Google dan menelusurinya. Karena akan sangat banyak artikel atau berita tentang bentrok dan kerusuhan. Percayalah, ndes. Sebenarnya tidak serusuh itu di beberapa tempat. Meskipun aku melihat sendiri pada suatu malam truk berisi anggota Brimob berganti shift untuk menjaga daerah yang sedang menghangat konfliknya. Yang katanya, masalahnya selalu tentang tapal batas dan kekuasaan tentunya.

Tapi ndes, ada satu tempat yang terlalu damai bagiku disana. Jauh dari hiruk-pikuk kendaraan bermotor. Tidak tersentuh aspal sama sekali. Bahkan jalan menuju kesana seringkali tertutup longsor tebing-tebing penjaga hutannya. Hmmmm.. aku mulai dari mana ya, ndes? Aku harus memilah-milah. Mungkin aku mulai dari jalan aspal terakhir menuju tempat itu.

Desa yang menjadi gerbang menuju tempat indah itu adalah Sadaunta. Di desa itu pula, kita bisa melihat gerbang bertuliskan ”Taman Nasional Lore Lindu”. Dari gerbang ini, akses menuju tempat penuh kedamaian itu adalah dengan berjalan kaki, atau naik motor. Di Sadaunta ini sudah ada tukang ojek yang tangguh dan siap mengantar kita dengan bayaran 50.000 rupiah. Ketika harga BBM naik di tahun 2013 itu, tariff ojeknya ikut naik juga, jadi 70.000 rupiah. Jangan kuatir, ndes. Ojek ini tangguh, sungguh. Ada juga ojek yang bisa dikatakan masih terlalu muda atau kecil. Kamu tidak tahu dia punya SIM atau tidak. Bahkan untuk mengganjal atau menapak menahan motornya, dia masih berjinjit, ndes. Kamu percaya itu? Tidakpun tak apa.

Wah, aku terlalu bertele-tele ya? Terlalu banyak basa-basi. Padahal tujuanku menulis ini untuk memberitahukanmu damai dan indahnya Anca. Ohya, kembali ke ceritaku ya, ndes.. daripada aku mengingatkan diri sendiri terus menerus.

Julang Sulawesi

Julang Sulawesi

Gereja

Gereja di Puroo

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s