Your Time Is Now!

Bukan sebuah persembahan. Bukan sebuah keindahan tulisan. Coretan ketikan lewat ketukan papan ketik. Yang mungkin berarti, mungkin tidak. ah, masih saja, aku menuliskan apapun dalam keabsurd-an yang absolut. Meskipun guruku berkata ”tak ada yang abadi”. (*kecuali keabadian itu sendiri?-imbuhku)

Orang datang dan pergi. Berganti. Namun tak seperti matahari, ia selalu datang dan pergi. Kembali. Dan kembali lagi.

Sebagaimana malam yang tiba saat sang surya terlelap, atau begitulah menurut kita.

Dalam sedetik aku mengenalmu yang auranya bagai kila-kila menyilaukan mata. Aku bukan cenayang atau orang sakti yang mampu melihat warna-warni itu dengan jelas. Tapi ada rasa bahwa aku melihatnya. Karena suasana ketika kau masuk ke ruangan sungup, melalui pintu kelabu itu, seketika ada nuansa cerah di sekitaran.

Dalam sedetik pula, aku memutuskan untuk mengenalimu, memahami segala tentangmu. Menjadikanmu panutanku. Yang akan membimbingku di jalan baru yang asing bagiku.

Sebagaimana dalam sedetik, ada merah hati merona di pipi. Yang pun dalam sedetik, rona itu meredup menjadi putih kembali. Karena, harapan akan gandengan tangan yang berlebihan sungguh berlebihan. Tapi, kenyataannya kau lebih baik daripada yang aku kira. Sebagaimana dalam sedetik, aku tahu kau sama seperti sosok-sosok kakakku yang kutinggalkan di Jawa sana, atau meninggalkanku entah kemana.

Dalam sedetik, kita akrab. Aku bertanya, kau menjawab. Saling bercanda, kadang bertatap. Aku mencoba membaca tatapan mata setiap orang yang kutemui. Saat aku memandang jauh dan lekat ke dalam matamu, sungguh abangku, aku tak bermaksud menakutimu.

Dalam sedetik, semangat dan segala asaku akan mengembangkan kreativitasku pun terpacu, memacu, dipacu. Sadar atau tidak, aku semakin merasa itu karenamu. Aku malu, abangku. Aku malu jika aku tidak mampu. Aku ingin selalu membawa kabar berita baik dan menggembirakan. Aku ingin, kau abangku tidak terbebani karena aku dianggap tidak becus hanya karenamu tidak selalu bisa bersamaku.

Dalam sedetik, abangku. Semangat yang meredup mulai membara. Bagai api bertemu oksigen.

Pun, dalam sedetik……

Dalam sedetik kabar bahagiamu menggetarkan keteguhanku, akan sekuat apa aku sekarang atau nanti.

Kau harus pergi dari kebersamaan ini. Aku bahagia. Kau harus berlalu menjadi pribadi yang lebih baik. Aku bahagia. Kesedihan itu muncul hanya karena egoku sendiri. Kesedihan itu muncul karena ketakutanku. Ketakutan kehilangan semangat dan motivasi. Ketakutan kehilangan senyum dan tawa ceria yang menggugah semangat bagi jiwa raga.

Dalam sedetik, abangku. Hilang keyakinan diri ini.

Dalam sedetik pula aku menyadari. Bahwa aku cukup bersedih dalam sedetik.

Karena dalam sedetik, aku harus kembali pada realita yang ada di depan, belakang, samping, mengepungku dari segala penjuru. Tentang aku, abangku, kekasih hatiku, orangtuaku, orang-orang yang menaruh kebahagiaannya untuk berjumpa denganku.

Jadi, abangku yang penuh energy. Aku putuskan dalam sedetik, aku akan kembali bangkit. Membuktikan padamu bahwa aku bisa meskipun tanpamu.

Dalam sedetik kita akan berjumpa lagi. Ketika itu kita membawa kabar bahagia dari kita masing-masing.

Dalam sedetik………

Kumpulan detik-detik menghadapi hidup, menjadi berdetik-detik.

***setelah berdetik-detik yang aku lewati, kembali kesini hanya membawaku pada kemuramanku sendiri. Apabila wajah-wajah berharap itu tak selalu muncul dalam benakku, aku sudah lari dan pergi. Tapi, aku harus memperbaiki kesalahanku, bukan? Menjadikan sesuatu hal baik untuk dikenang oleh mereka. Biarlah ini berlalu secepatnya, sebagaimana mimpi indah dan mimpi buruk yang menghadang kala mata mengantuk.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s