Diam

Rangkaian empat huruf yang membentuk satu kata ini seringkali muncul setiap kali aku berkedip. D-I-A-M. Diam. Bukan daim, idam, adim, mida, madi, atau yang lain. Padahal sekali dua kali saja membaca kata ini sebelum akhirnya otak tanpa disadari mencatat dan mengingat terlalu dalam.

Entah diam seperti apa maksudnya.

Akupun terkadang memilih diam. Diam di duniaku beragam:

Diam yang berarti tak berbicara. Namun tetap bekerja dan berkarya. Kusebut itu diam, mulut tak berkata-kata. Terkatup rapat. Biar anggota tubuh lain yang mewakili isi dan ide pembicaraan sunyi.

Diam yang berarti tak melakukan apa-apa. Tak berbicara tak jua berbuat apa-apa. Kusebut itu mendiamkan dalam acuh dan ketidakpedulian. Apatis. Dan kutangkap maksud diam ini, tak juga ambil pusing apalagi memikirkannya.

Berdiam diri, mungkin tak seapatis nampaknya, oleh mata. Raga ini duduk terdiam di sudut ruang sambil menatap rumput di halaman melalui kaca jendela. Benarkah itu sungguh diam? Mungkin dalam otak dan pikirannya tak sesunyi nampak raganya.

Mendiamkan pun, tak selalu berarti berhati tak peduli. Ada kalanya, menunggu dan menguji. Cukup mengertikah yang didiamkan? Bahwa yang mendiamkan sesungguhnya menunggu aksi, untuk menguji kecekatannya memecah sunyi?

Diam-diam, aku terpuruk begitu saja dalam diamku. Tapi jariku, tak jua mau diam. Bahkan ketika ingin kuakhiri menulis ini. Karena otakku mengajakku berhenti memikirkan diam agar bisa melangkah ketidakdiaman. Mengganti topik pembicaraan otak. Lalu menyinkronkan dengan jari agar tak melulu diam.

Diam

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s