Apapun! Awan hitam!

Inhale-exhale

HUFHT!!!

Ah, siklus tahunan. Akan terjadi terus seperti ini jika aku tidak bisa memindahkan pikiran, jiwa, dan ragaku ke tempat lain. Bisakah aku lebih legowo jika bisa berpindah?

Ah, baik dan buruk memang tak sama. Tapi selalu bersama, terpisah selaput tipis tak kentara. Invicible layer, unfortunately. I can’t see it with my eyes. But it’s so clear to find it with my instinct. Poor me. Could I be an ordinary woman, please? Although, I’m not the extraordinary one.

Ah, masih saja kamu di otakku. Bisa enyah saja? Tidak. Tak akan bisa, hingga aku menjadi pikun bahkan tak tahu siapa sejatinya aku. Ah, seolah aku sudah memahami diriku sendiri. Aku paham! Saat ini aku menjadi Sarpakenaka yang melihat Lesmana. Saat ini aku Rahwana yang mendamba Sinta. Ah, tapi perihal tindakan, aku tak bisa apa-apa. Kecuali tersenyum melihatmu tersenyum. Atau berduka ketika melihatmu menempel-nempel pada Cinderellamu yang berasal dari negeri entah berantah itu.

Ah, keluh-mengeluh saja bisaku. Cih!!!

Aku tak lantas menjadi lemah. Hanya hati menjadi remah. Tapi, itu tak masalah. Tak indah jika hidupku sebatas di permukaan tanah. Sesekali aku harus mengudara lalu di hantam hingga batuan induk bumi. Olehmu. Tak masalah. Sulit berbicara denganmu tentang rasaku. Karena ini sulit dijelaskan seperti, aku ingin menjelaskan maksudku, ideku tentang alien dan kita bukan makhluk bumi. Apakah aku yang berpikir terlalu tinggi, psychedeliaku meninggi, atau kamu saja yang terbenam dalam realitas sederhana urip-mangan-turu-nelek-mbojo-mati. Damn you! Maaf, tak ada sensor disini. Aku maki-makipun kamu tak tahu. Toh, kamu bukan manusia yang peka dan peduli. Kamu sedang sibuk menjadi orang bijak di sekitarmu, mendalami lain-lain agar hidupmu bahagia, atau makin nampak mempesona. Cih!!! Itukah yang aku lihat darimu kini? Tapi toh, kamu tetap saja seperti itu. Tak peka. Kalaupun tahu, tak mau peduli. Ya sudahlah, aku cukup tahu, duhai Rama… oh Rama….. Aku bukan Sinta, bukan pula Sarpakenaka. Jangan-jangan aku seperti Mandodari? Ah, mana bisa. Di kitab besar mana namaku disebut. Oh, ada… Aku disebut berkali-kali. Tapi itu aku yang bukan aku. Entah.. Cih!!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s