Andai aku berkata ‘tidak’

Berjam-jam sudah aku memutar tiga lagu yang menusuk-nusuk kalbuku. Kotak. Band yang aku suka tapi tak terlalu berlebihan menyukanya. Masih Cinta, Selalu Cinta, Kecuali Kamu. Itu tiga judul lagu yang aku putar berulang-ulang. Sebelum ini, aku tak terlalu akrab dengan lagu-lagu itu. Sekedar tahu saja.

Apa yang terjadi pada perasaan yang aku sendiri tak paham?

Tangan itu rasanya menyeretku mendekat padamu, Tangan itu menuntunku.

Namun, selalu ada kecanggungan pada keakraban kita yang tak lagi seluwes dulu kala. Kita pernah menacapkan paku di kayu kita. Kita mencabut paku itu di kemudian hari. Dan sayangnya, bekasnya tak mau pergi.

Maafkan aku Semesta. Jika kebanyakan waktuku untuk memikirkanmu. Lalu mengingat Semesta. Karena pedih dan perihnya tak pernah kuduga. Kenapa harus terasa seperti ini? Ada kesi-siaan yang menjelma. Dan ketidakbergunaanku untukmu adalah hal menyakitkan. Dan senyummu yang tanpa henti padanya adalah kesia-siaanku. Dan kamu jauh. Sangat jauh.

Aku tak pernah se-takjelas ini. Atau mungkin pernah tapi aku lupa. Biasanya semua keterpurukan ini muncul di suatu fase yang memang biasa terjadi. Tapi, ini bukan waktu untuk fase itu. Itulah mengapa aku merasa tak bisa memahami diriku sendiri. Apa yang terjadi? Apa yang Surya ingini? Gerhana matahari? Atau menutupi diri dengan mega mendung atau awan putih?

Bisakah aku memilikimu tak hanya di dalam mimpiku? Saat beberapa hari kita adalah dua anak manusia dan bukan orang tua. Dalam kehidupan nyata dan dalam mimpiku, selalu kamu yang kulihat dan kujumpa. Kamu yang aku rengkuh mimik wajahnya. Kamu yang kuhirup lekat aroma feromonnya.

Aku tidak bisa mendefinisikan perasaan ini. Kata-kata tak mampu mengungkapkannya. Lakuku tak bisa kutunjukkan padamu. Aku takut kamu menjauh dan pergi. Lalu akan jadi apa hatiku ini? Aku pengecut tak mampu mengakui apa yang aku alami. Menganggap persoalan yang sebenarnya bukan persoalan ini benar-benar selesai dan kita menjadi seperti dulu. Dan entah mengapa aku sangat yakin kamu merasakan ketidakberesan dalam keputusan kita bahwa kita adalah kesalahan dan tidak terjadi apapun. Sesuaikah firasatku?

Mengapa kamu selalu saja seperti itu jika aku di dekatmu? Memuja-muji hawa dengan khayalan tinggimu. Menggoda ini-itu dengan terlalu menggebu hawa-hawa ketika aku di sekitarmu. Apa yang ingin kau tunjukkan? Bahwa aku bukan apa-apa? Ataukah aku tak penting?

Sungguh, kamu tak bisa bayangkan rasanya. Kamu tak mengerti rasanya ketika aku harus berhadapan denganmu. Andai aku bisa jujur mengekspresikan. Aku hanya ingin mengurai air mata. Entah untuk alasan apa. Sakit ternyata memendam perasaan seperti ini. Tapi aku terlalu tak kuat mengubur perasaanku. Tahukah kamu?

Jika hanya sekali, kuanggap itu kekhilafan.

Jika lebih dari itu…… Aku mulai berpikir. Hati seperti apa yang kamu miliki?

Andai aku memberanikan diri untuk berkata ‘tidak’ saat itu. Mungkin semua ini tak perlu terjadi. Mungkinkah? Jadi, apakah ini akulah yang salah?

Tapi sampai detik aku berkata ‘iya’, aku menjerumuskan diriku pada diriku yang tak aku tahu. Aku melihat diriku yang lain, melalui kamu. Betapa mengerikannya aku. Jika itu hanya sesaat, lalu kenapa sampai sekarang masih terasa sakit mengingatnya. Ingin melupakan pun tak bisa.

Duhai, Semesta. Apa ini?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s