Bukan Masha *and the bear

Ini bukan kisah tentang Masha yang imut-imut-bandl-ngeselin. Ini adalah cerita tentang satu spesies burung yang menghuni sebuah hutan. Ia tertangkap kameraku. Namun, memang sayang disayang, dengan kamera yang ada di tanganku, hasilnya tak pernah bagus untuk memotret apapun. Termasuk Masha yang satu ini. Zoom, jepret, crop. Aduhai…. bukan hanya amatir, dibilang bisa motret aja masih sangat tidak layak. So, enjoy Masha Story, from Plawangan, Merapi.😀

Pagi menjelang siang, sekitar pukul 9.30 WIB. Jalur pengamatan ini sudah mulai ramai dengan pengunjung wisata. Sedari pagi sebenarnya jalur pengamatan burung sudah ramai dengan para pengamat burung dan fotografer. Hari ini ini adalah hari Lomba Pengamatan Burung Merapi atau LBWM (Lomba Birdwatching Merapi). Sekitar 80 tim pengamat burung dari berbagai komunitas birdwatcher berkumpul bersama untuk berlomba-lomba. Entah untuk memenangkan piala dan hadiah dari panitia, atau sekedar ingin bernostalgia berkumpul bersama saudara-saudara seiya-sekata. Adapula yang sekedar camping ceria mengisi weekend-nya sebagai mahasiswa tua *curhat.

Aku bersama dua orang temanku. Dua temanku ini sangat antusias pengamatan. Membuat sketsa dengan sangat serius. Dan juga penasaran akan banyak hal tentang perburungan. Sedangkan aku justru autis dengan kamera di tanganku dan sibuk memancing memori dan kenangan masa lalu saat mengambil data seminarku. Maklum saja, jalur yang kami tapaki ini merupakan salah satu jalur pengamatanku kala itu.

Nah, kembali ke waktu 9.30 tadi, kami hendak turun kembali ke perkemahan untuk menyetorkan hasil pengamatan dan foto. Saat tiba-tiba sekelompok pengamat burung lainnya ramai berkumpul di satu sisi jalan. Mereka sibuk mengamati sesuatu di pepohonan. Dan ternyata itu adalah Si Masha.

Kedua temanku langsung terpana dan merasa senang. Mengamati berkali-kali. Burung ini nyaman-nyaman saja diintip oleh mereka. Bertengger diam di ranting pohon. Aku jadi teringat pertama kali melihat Si Masha, akupun terpana. Warnanya yang menyala di hijau daun-daun memanjakan mata.

Inilah di Si Masha… Ptilinopus porphyreus atau Walik kepala-ungu atau Pink-headed Fruit-dove.

Masha termasuk dalam familia Columbidae. Masih saudaraan sama merpati yang tak pernah ingkar janji itu lho. Burung ini terdistribusi di Sumatera, Jawa, dan Bali.  Status konservasi Si Masha menurut IUCN Redlist termasuk Least Concern. Dan trend populasinya menurun.

Nah, itu saja sekelumit tentang Masha yang aku jumpai di Plawangan. Jika ingin berjumpa dengannya, sempatkanlah sejenak kesana. tapi ingat, tetap jaga kebersihan dan kelestarian lingkungan ya.. jangan buang sampah sembarangan..

Pink-headed fruit-dove

Pink-headed Fruit-dove

Pink-headed fruit dove

Ptilinopus porphyreus

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s