Mati

Pada suatu obrolan itu, aku masih ingat. Lewat tengah malam, di dini hari yang remang dengan lampu temaram kota. Kita berbicara banyak hal. Dan mungkin, seingatku sebenarnya. Aku tak pernah ditanya dengan cara seperti itu. Mendadak. Dan jawabannya juga spontan saja. Aku tak terlalu memikirkan atau merencanakan hal itu. Berharap, tidak akan pernah mati.

Kau ingat saat itu? Kau bertanya padaku, aku ingin mati seperti apa. Pertanyaan itu agak membuatku tersentak. Aku tak tahu aku ingin mati. Bahkan membuat skenario seperti apa matiku nanti.

Kau ingat jawabanku? Jawaban yang aku sendiri tak sadar aku mengucapkannya. Karena sama sekali tidak tahu. Karena kematian itu, sepenuhnya aku pasrahkan pada yang kuasa. Aku tak menginginkan macam2, kecuali tercium aroma wangi dan tersenyum saat aku mati. Tapi, pertanyaanmu itu, bukan menginginkan jawaban semacam ini kan? Atau sekedar khusnul khotimah. Aku tahu arah pertanyaanmu. Dan akhirnya aku menjawab:
” Aku ingin mati sebagai orang biasa saja. Tak usah muluk-muluk. Mungkin menjadi orang yang mati tanpa ada yang merasa sedih berkepanjangan terhadap kepergianku, itu sudah cukup. Jadi, orang-orang bisa sesegera mungkin melanjutkan hidup mereka tanpa merasa kehilanganku. Aku tak ingin membuat orang bersedih hanya karena aku.”

Orang bersedih yang aku maksud saat itu merujuk pada orang ”galau” karena ditinggal mati. Yap, aku sama sekali tak berharap orang menjadi susah dan sedih karena aku mati. Mereka akan harus tetap bahagia.

Dan aku ingat kamupun berkata-kata tentang inginmu pada mautmu itu. Meskipun ita berdua sama-sama tidak tahu rencana Tuhan terhadap kita.

Kau tidak serta merta mengatakan kamu ingin. Tapi kamu menggunakan ‘sepertinya jika’ di awal harapmu.
”Sepertinya, jika kita mati saat sedang naik gunung, atau sedang ekspedisi mencari harimau, atau apapun itu pasti keren ya… Sepertinya aku akan ikhlas saja, jika saat itu aku sedang mencari Harimau Jawa, membuktikan keberadaan mereka. Dan aku melihatnya. Meskipun itu berujung pada kematianku diterkam harimau. Setidaknya, aku senang aku melihatnya. Tak terlalu penting dunia tahu. Aku sudah tahu.”

Kira-kira begitulah kata-katamu. Dan akupun serta merta mengiyakan. Seketika menjadi orang tanpa pendirian. Yang tadinya berkata ingin mati wajar dan biasa saja, menjadi berharap mati dalam suatu ‘adegan heroik’ seperti yang kamu maukan.

Sekali lagi. Kita tidak tahu kita akan mati seperti apa. Tapi, ide untuk mati heroik itu cukup menggoda. Itu nyatanya. Dan apakah orang yang meninggalkan dunia fana ini juga merencanakan kematian mereka? Tentu tidak.

Pada akhirnya kita hanya berandai. Mengagumi kematian. Padahal kita sama-sama tahu, kita tidak tahu kepastian itu kapan akan datang. dan kita sama-sama tahu, setelah kita mati, kita tidak bisa lagi berbincang seperti ini. Di lewat tengah malam saat dini hari. Ditemani temaram jingga lampu kota. Dengan penghangat wedang susu jahe. Di surga, adakah susu jahe yang hangat itu?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s