Kau Gitaku

Kau adalah gitaku. Nyanyian alam di malam kelam.
Malam ini aku masih menatap lembar kosong. Entah merasakan apa. Entah berpikir apa. Hitam putih itu kembali berputar, berulang. Disana aku dan kamu, nyanyian malamku. Dalam seratus persen sadarku, dan entah apa kamu masih sadar atau sudah mulai melantur. Di malam itu, aku tak bisa mengingat dengan jelas apapun yang kamu katakan. Aku hanya menikmati senyum di bibirku sendiri. Aku hanya menikmati tiap udara yang aku hirup di dekatmu. Bahwa kita berada di tempat yang sama. Bahwa, aku dan kamu terasa dekat bercengkrama dalam canda.
Hingga akhirnya setelah bertahun lamanya aku mulai mengingat dengan jelas dan memaknai ceritamu. Bukan tentang harapan apapun tentang aku dan kamu. Tapi tentang mereka yang kamu busakan di gelembung memoriku. Ya Tuhan, tiba-tiba aku nyaris mengingat siapa wanita yang kamu maksud dan siapa pria pendampingnya.
Dan akupun mengingat ketika kepalamu beradu dengan kepalaku. Seperti sengatan listrik yang mencandu. Aku merasa kamu membutuhkanku untuk sekedar menopang sejenak kepalamu yang sepertinya mulai terasa melayang. Gemelisik rambutmu. Membuatku salah tingkah karena tak pernah satupun yang begitu gusar meletakkan kepalanya padaku.
Duhai, Gusti..
Aku tak tahu, ternyata hati ini terlalu merindu. Tiap nyanyian dan candaan. Ketika aku menjadi seperti anak kecil yang merengek. Dan terkadang terlalu jantan sebagai seorang gadis manja.
Duh, Penyebar Galaksi..
Bilakah aku bisa bertemu dengannya lagi? Sedang ia bersuka dengan dirinya tanpaku, aku terpaku pada melodi dan kata yang membawaku menuju kenangan tentangnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s