Gie

Gie

Gie, aku tak akan lelah menuliskan namamu di buku harianku. Tapi maafkan aku. Aku menjadikanmu bukan dirimu. Aku tertelikung di dunia imajinasiku. Dunia yang membuatmu menjadi maya dan tak tersentuh. Dunia yang memenjarakanmu dan menjadikanmu sempurna seperti harapku.

Namun, Gie. Apalah arti sempurna itu jika semua tak nyata? Maka, seandainya Sang Waktu bersedia membagi detiknya. Aku ingin bertemu denganmu. Meskipun saat kita bersua, sama sekali tak ada romansa. Karena kita terbiasa mendebat kata per kata yang membusa dari bibir kita.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s