Kegelisahan Kalbu, Ini Tentang Kamu

Akupun mengalaminya. Sekarang ini. Ingin berhenti peduli pada rasa takut. Berhenti merasa takut dengan cara berhenti peduli pada apa yang akan terjadi. Karena sesungguhnya akupun tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Hasil apa yang akan aku dapat dari tindakan ini. Aku berusaha memberanikan diri menghilangkan takut dengan berhenti peduli pada kata-kata manusia. Menyerahkannya pada Tuhan. Berharap Dia akan memberikan penerangan di lorong-lorong misteri ini. Aku tak perlu tahu masa depan. Aku perlu tahu, aku sudah berusaha dengan segenap kemampuan dan semangatku.

Aku yakin, jika aku bergerak, aku mengusahakan sesuatu, akan ada hasil yang aku dapat. Meskipun seringkali tak sesuai harapan. Dan menganggapnya tanpa hasil ataupun gagal. Mungkin belum sekarang. Mungkin usahaku masih kurang. Ah, itu sering sekali terjadi. Beberapa karena ada rasa takut untuk melangkah. Sebagian karena aku sama sekali tak yakin dan setengah hati menjalani. Aku lemah. Itu kenyataan.

Bertahun-tahun digempur dengan hal yang sama pun tak menjamin aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Banyak faktor yang mempengaruhi. Seperti makhluk hidup lainnya. Air, tanah, angin, udara….. Tumbuhan… Hewan-hewan.. Kerikil, batu, sungai, gunung, tebing… Barrier… Magma.. Gerakan tektonik lempeng.. Semua itu mempengaruhi. Jikapun aku terlatih mendaki gunung dan harus mendaki gunung dengan mereka yang belum pernah mendaki gunung. Itu bukan masalah. Kita mendaki bersama. Kita berbagi. Akhirnya kita berlatih bersama. Yang belum pernah mendaki berlatih mendaki. Yang pernah mendaki berlatih mendaki bersama yang belum pernah mendaki. Sepertinya sesederhana itu saja. Mungkin.

Di suatu waktu, aku tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa berbicara. Percayalah. Aku pernah mengalaminya. Mereka membutuhkanku untuk berbicara. Datang atas undangan mereka, lalu berbicara. Mengatakan hal yang ada di otakku, pendapatku, solusi yang aku tawarkan. Tapi, berbicara itu bukan tanpa dipikir terlebih dahulu. Kita harus menganalisa konteks pembicaraan. Well, dalam sepi malampun aku sering berbicara. Percakapan antara aku, diriku, dan Tuhan. Mengeluh ini-itu sampai air mata membanjiri kamar dan membasahi selimut. Apakah itu sia-sia? Tidak. Sama sekali tidak. Ada kesadaran, minimal ”aku tak akan menjadi apa-apa jika hanya mengeluh saja, ayo berbuat sesuatu.”

Dan… Kadang diri semakin terhanyut. Silau pada kebahagiaan orang lain. Menginginkan ladang tetangga yang lebih subur dan menghasilkan banyak buah. Panen melimpah. Sungguh, nikmat yang indah. Sedangkan ladangku? Tunggu.. Bahkan aku tak punya. Benarkah aku tak punya apa-apa? Mungkin aku harus lebih bijak pada diriku sendiri. Menemukan apa yang bisa kulakukan, dan melakukannya dengan kesungguhan. Hasilnya, serahkan pada Tuhan. Dia yang akan menilai, hasil seperti apa yang akan dapat.

Keep on going!

Be positive!

Memang tidak mudah. Akupun belum berhasil menjalankan yang seharusnya aku lakukan. Tapi, apa salahnya mencoba? Bahkan jika gagal, tidak seharusnya menyerah kan?

Hhhhh… Semoga.. Tuhan… Sertailah aku di tiap degup jantung dan desir darahku. Aku tahu, Kau selalu ada untukku..

copy-jejak3.jpg

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s