Kekhawatiran – Copied from my tumblr

Aku rindu memanjat tebing-tebing cadas yang panas terbakar sang surya. Di tiap cacat batuan bertumpu dan bertahan untuk maju, untuk menjadi lebih tinggi. Filosofi yang menarik bagiku, sesulit apapun jalannya pasti bisa kita lalui, lewati, dan nikmati. Di tempat tertinggi itu, ada rasa puas dan bangga atas usaha yang dilakukan, atas peluh yang menetes membasahi, atas darah yang merembes kemudian mengering. Lalu, sampailah pada titik dimana usaha ini harus dihargai, namun tak bisa dibeli.

Aku rindu menelusuri lorong-lorong bumi. Kadang hanya harus berjalan lurus. Kadang harus berbelok. Lantai lorong-lorong yang kadang padat dan nikmat diinjak. Namun, lebih banyak jalan yang berlumpur, kadang harus berenang, kadang harus menenggelamkan diri, kadang harus merayap, merayappun pada lantai berlumpur. Berhati-hati, karena kepala yang berpengaman ini pun tak luput dari buaian tonjolan bebatuan kapur. Stalagtit, stalagmit.. Kadang para troglobion yang terganggu dengan makhluk-makhluk asing ini menjadi gelisah. Pada tubuh mereha yang transparan, kami terheran-heran. Pada antena mereka yang luar biasa panjang, kami tercengang. Bahwa, di bawah tanah yang gelap dan berliku ini, masih ada yang hidup dengan nikmatnya.

Gunung yang agung. Gunung yang biru dari kejauhan. Gunung yang tegar tak tergoyahkan.Gunung yang diselimuti kabut. Gunung yang dicintai badai. Gunung yang di suatu hari nanti hanya akan menjadi seringan kapas dan berterbangan di muka bumi.

Aku rindukan keakraban gunung dan hutan. Pada hijaunya padang rumput sabana. Pada sejuknya udara yang menyusupi tiap nadi. Pada birunya langit dan awan-awan yang berarak di bawah kaki. Pada hangatnya minuman kita. Pada masakan nikmat yang bersama-sama dicerna. Tidak cerca ketika menapaki tiap tubuhmu, duhai gunung yang agung. Tapi sesekali rasa duka itu hinggap. Ketika melihat apa yang tidak semestinya terjadi pada tanahmu. Bahkan, kehadiran kamipun menyebabkan kepedihan dan nyeri di badan tegapmu. Maafkan, kami terlalu egois. Semua yang kami lakukan selalu kami kembalikan pada diri kami, bagaimana semua ini memberi manfaat bagi kami. Bagaimana perasaanmu duhai gunung yang agung? Bahkan jika aku menjadi kau, aku akan merasa sedih dan gundah. Karena kau dijadikan alasan penuh pembenaran tingkah laku manusia.

Apa yang bisa aku lakukan? Apa yang bisa aku pertanggung-jawabkan? Setelah banyak/sedikit alam yang tersakiti oleh langkahku, suaraku, dan pemikiranku. Benarkah apa yang selama ini aku lakukan dan pikirkan? Apakah itu bukan pembenaran belaka? Apakah ini sesuai dengan kodratku sebagai manusia?

i do not own this pict.

i do not own this pict.