Sesaat, ataukah tak sesaat?

Mataku hanya bisa memandangmu. Silih berganti. Pada jemari dan ekspresi. Telingaku terpusat mendengarkan suara gema. Bibirku sesekali terkatup. Sesekali tersenyum. Sungguh, aku sangat menikmati ketika kau di sekitarku.
Kamu memberiku ruang dan waktu. Mengajakku melakukan sesuatu. Mengarahkanku pada imaji indahnya alam dan bumi. Tak terkecuali, tentang kehancurannya oleh manusia.
Kamu, menghembuskan asap-asap racun itu bersamaku. Minum kopi dari gelas yang sama. Kemudian jika malam telah lelah dan pagi bersegera menjelma, kamu akan memintaku. Air putih. Mendetoksifikasi kopi yang pekat dan mungkin rasa tembakau di rongga mulut.
Hay, kawan.. Aku harap rasaku tidak jauh mendalam.
Hay, kawanku.. Aku terlalu menyukai saat-saat bersamamu. Salahkah aku?
Hay, kawan.. Salah satu alasan yang mungkin aku miliki untuk menyukaimu dengan terlalu… Aku tak tahu.. Mungkin karena kamu masih disini. Sama sepertiku.
Hay, kawan.. Aku juga kadang cemburu. Saat kamu membicarakan wanita lain yang entah sedalam apa kamu menyukainya.
Hay, kawan.. Jangan percaya tulisanku. Mungkin ini luapan emosi sesaat. Dan jika ternyata ini tidak sesaat, maafkan aku.

Guitar-HD-Wallpaper-5

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s