Aku, kamu, dia, mereka. Adalah jalinan tali yang sesak dan rapuh!

Hay, ndes.. Apa kabar? Aku yakin kabarmu baik. Setidaknya tak sedih atau terbebani apapun sedikitpun. Ndes, aku ingin bercerita. Analisa, logika, dan cinta yang aku racik dengan pilu karena malam yang pernah kita lalui bersama.

Pada suatu malam, aku memandangi foto kita, itu berarti aku, kamu, dan 2 wanita lainnya yang menjadi pernahmu. Aku melihat urutan. Dari mulai yang terdekat denganmu adalah kekasihmu saat itu. Lalu, sebelahnya lagi kekasihmu setelah hubunganmu dan dia berakhir. Dan aku, yang paling di pinggir. Setelah kekasih keduamu. Aku bukan yang ketiga. Masih ada satu yang saat itu memang belum terlahirkan di foto itu. Aku hanya tersenyum lesu. Adakah Tuhan memaksudkan apa dalam citra itu?

Kadang, aku berharap. Kamu akan menanyakan tentang rasa sayangku padamu. Lalu, aku akan menjawab bahwa aku tak perlu menjawab. Atau aku harus mengkategorikan sayangku padamu sebagai apa dan siapa? Harusnya sudah jelas. Mungkin itu alasannya kamu tak pernah menanyakannya. Atau karena.. hingga detik ini, dan malam itu.. aku hanya pelarianmu. Hmmmm… aku menilik lagi. Aku hanya bisa bersamamu saat dia yg ketiga, tidak berada di semestamu. Sesungguhnya, itu artiku.. sebagai sahabatmu, aku akan ada jika kamu butuh dan memerlukan teman bersama. Tapi, bukan berarti ketika kamu bersamanya lalu melupakan dan membuangku begitu saja kan, ndes?

Berulang kali aku berdoa pada Tuhanku. Mungkin itu jarang kamu lakukan. Aku memohon dijauhkan, tapi setelah doa itu, kamu kemudian mendekat dan member perhatian. Apa aku harus salahkan Tuhan? Tidak! Apa aku harus menyalahkanmu? Tidak! dan aku tak mau menyalahkan diriku sendiri. Itu tidak adil bagi egoku. Ego.. ego.. Apakah aku egois? Jika aku ingin kebahagiaanku? Apakah aku egois? Jika sekali-kali aku dapatkan yang aku mau? Bahagia adalah ketika melihatmu bahagia. Tapi, aku tak bahagia jika bahagiamu adalah bersama yang ketiga. Aku masih lebih bahagia bila kamu bersama dua yang sebelumnya. Egoku! Apakah aku pikir aku Tuhan? Bukan! Aku hanya tak rela.

Ndes, aku hanya minta tolong. Beri aku kejelasan dan penjelasan. Beri aku sapaan dan kontak mata. Beri aku rasa persahabatan yang dari dulu kita bina dengan baik. Meskipun aku tahu, kamu hanya ingat sahabat saat kamu tidak bersama yang ketiga. Harusnya kamu bisa menjaga hubunganmu dengan sahabat-sahabatmu. Memangnya kemana kamu akan pergi saat merasa sepi? Memangnya siapa yang akan kamu ajak berdiskusi kalau bukan sahabat-sahabatmu itu? Ndes.. Ndes.. Yang akan aku lakukan saat kamu pergi dan tidak peduli padaku adalah menunggu kamu memanggilku dan membutuhkanku. Ingat itu, Ndes. Karena seburuk apapun rasa sakitku sebagai wanita saat ini, dari dulu kamu adalah sahabatku, dan begitulah seterusnya. Bahkan jika kamu membutuhkanku bukan sebagai sahabat, seperti yang telah lalu, sebagai tempat sampah curhatmu. Just call me. I’ll be there..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s