Sendratari Ramayana

Festival Ramayana Tingkat Nasional 2012 dalam  Guinness World Records

Panggung Terbuka Ramayana di Prambanan Yogyakarta 12-15 Oktober 2012

                Social media tidak selamanya membawa dampak buruk, selama kita bisa memanfaatkannya dengan baik dan bijak. Contohnya adalah pengalamanku berikut ini.

Itulah gunanya teman, dan itulah gunanya social media. Dari seorang teman yang suka memantai social media, berujung ke Ramayana Ballet yang free. Kami anak kos, kata ‘’free’’ tentunya sangat menggiurkan untuk dilewatkan. Kami hanya perlu ticketing via telpon, and walllaaa… it’s free to watch Ramayana Ballet in Prambanan.

Perjalanan menuju Candi Prambanan pun bukan perkara mudah. Selain jaraknya yang cukup jauh dari kosan, kami harus diguyur hujan ‘labil’ malam itu. Tidak hanya hujan labil, ban motor juga sempat bocor. Padahal, tak sampai 10 menit kami harusnya sudah bisa sampai di Candi Prambanan. Tapi menunggu ban bocor diganti (bukan ditambal) adalah sama dengan menunggu hujan reda. Jadi, memang sealu ada hikmah di setiap kejadian. Hujan reda, motor beres, perjalanan dilanjutkan, dan sampailah di Candi Prambanan.

Tentunya semua sudah tahu cerita Rama-Shinta. Jadi tak usahlah berpanjang kali lebar sama dengan luas disini.

Festival Ramayana ini bisa dikatakan sebagai Pergelaran 8 Versi Ramayana dari 8 Daerah. Versi yang dimaksud disini mungkin penyesuaian tiap daerah dalam cerita Ramayana itu sendiri. Mulai dari kostum, koreografer, dan musiknya. Ada 8 daerah yang ikut berpartisipasi, yaitu DIY, Sumatra Utara, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bali.

DIY membawakan lakon Sang Gendawa Denta, cerita tentang Dewi Shinta dari kecil sampai akhirnya disunting oleh Rama melalui sayembara. Sayembara itu berupa ‘’membentangkan busur pusaka anugerah Dewa Siwa.’’

Sumatera Utara membawakan lakon Hilangnya Dewi Shinta. Kiranya sudah jelas, dalam cerita ini berkisah bagaimana Dewi Shinta hilang diculik oleh Rahwana.

Kalimantan Selatan membawakan lakon Subali Muksa, bercerita tentang Kakak-beradik Subali dan Sugriwa. Sugriwa dan Rama bekerja sama untuk menghilangkan kemarahan Subali. Dalam lakon ini, Subali mati di tangan Rama. Dan Sugriwa selanjutnya akan membantu Rama dalam usaha pencarian Shinta.

Jawa Tengah membawakan lakon Hanoman Duta. Kisah ini tentang terpilihnya Hanoman sebagai utusan Rama untuk menyelamatkan Dewi Shinta dari tangan Rahwana.

DKI Jakarta membawakan lakon Rama Tambak. cerita ini berkisah tentang perjuangan Rama dan pasukannya untuk menyelamatkan Dewi Shinta dari tangan Rahwana. Mulai dari menyebrangi samudra sampai dengan membangun tambak. Pada kisah ini, Wibisana, adik Rahwana yang diusir dari Alengka muncul. Wibisana akhirnya membantu Rama.

Jawa Timur membawakan lakon Anggodo Duta. Kisah ini bercerita tentang Anggodo sebagai utusan Rama ke Alengka. Namun, karena sifat Anggodo yang kurang bijak dan mudah diomabng-ambingkan justru menyebabkan kerusuhan. Anggodo akhirnya dipenjara karena ulahnya sendiri.

Nah, 2 kontingen terakhir ini muncul di malam puncak yaitu 15 Oktober 2012. Aku menonton hanya yang dua ini. Tapi, sungguh, luar biasa sekali seni Indonesia itu. Menawan dan luar biasa, sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Jawa Barat membawakan lakon Kumbakarna Gugur. Koreografi nan apik dan mengesankan. Dengan kain lebar menutupi lantai tari. Hmmmm.. efek darah dan air laut. Gabungan pencahayaan dan tata gerak serta tata panggung yang indah ini berhasil memukauku..

Bali menampilkan lakon Rahwana Gugur. Jelas lakon ini bercerita tentang matinya Rahwana oleh hujaman panah Rama. Kontingen dari Bali ini-lah yang paling ruamee.. warna-warni ragam busana dan gerak tarinya rampak dan riuh. Aku acungkan semua jempol yang aku punya untuk kontingen Bali, totalitasnya itu lho, joss tenaaann..

Kemudian, rangkaian epos ini ditutup dengan lakon Api Suci oleh para penari dari Sanggar Roro Jonggrang. Pembuktian diri Shinta bahwa dirinya masih suci. Bahwa Rahwana sama sekali tidak menyentuh kesucian Shinta.

Rangkaian sendratari selesai, dilanjutkan dengan penyerahan penghargaan dan kembang api yang memukau. Huweeee… indahnya… Lalu, kami berfoto ria dengan para penari, tapi hanya bisa dengan para penari dari Jogja. Padahal sangat ingin berfoto dengan para penari dari Bali dan Jawa Barat. Tapi, tak masalah.. Mendapatiku dalam keterkejutan, halah. Adalah momen yang sangat langka dan entah peluangnya sekecil apa. Bertemu dengan guru tari SMA-ku dulu. Bu Mul. Di Jogja. Di event semacam ini. Betapa ini adalah keindahan. Sejenak bersapa tegur ramah dan ceria dengan beliau. Senangnya… komplit sudah!!!

Tapi semua cerita ini tak akan indah tanpa adanya teman-temanku. Berbagi kesulitan dan kebahagiaan itu indah. Saat kita teringat dan terkenang akan memori itu, kita akan tersenyum. Dan saat itulah kita menyadari ada hal-hal yang tak bisa kita putar ulang. Dan selayaknyalah kita melakukan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. Jika baik, akan jadi kenangan manis. Jika tak baik, entah akan jadi apa, mungkin hanya seperti duri yang berulangkali menghujam.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s