Mama Mia, Senyum dan Masakannya

Keramah-tamahan Wae Sano masih terngiang.

Desa tepi danau Sano Nggoang yang bercahaya oleh pancaran sinar matahari.

Dalam damainya alam hijau, ada senyum indah yang tersembunyi.

Ada pemanja lidah yang pantas dirindu.

Lomak jantung pisang buatan Mama Mia adalah yang terbaik.

Lomak pakis buatan Mama Mia adalah yang ternikmat.

Lomak buatan Mama Mia, tiada tandingannya.

                ‘’Enu, putar kopi sudah!’’ setiap pagi akan selalu disambut dengan kata-kata ini. Mama akan terus memintaku membuat kopi sampai aku benar-benar membuatnya. Begitulah setiap pagi selama 2 bulan di Nunang.

Beruntunglah aku. Ketika KKN di Wae Sano, aku menyemang di rumah Mama Mia & Papa Sebas. Mama Mia sangat suka memasak. Masakannya-pun enak. Meskipun dalam beberapa masakan yang kami kenalkan masih kurang sesuai dengan lidah. Masakan yang selalu enak adalah Lomak atau urap. Sayuran yang dicampur dengan parutan kelapa dan bumbu-bumbu.

Setiap makan malam adalah momen berkumpul bersama keluarga. Semua baru akan makan setelah semua berkumpul. ‘’Mai Hang ga!’’ mari makan sudah. Begitulah ajakan makan itu. Saat makan, aku dan kedua teman sesemangku pasti akan menambah nasi dan lauk. Rasanya nikmat dan nikmat. Selama 2 bulan seperti itu dan badanku tak juga menggemuk. Saat perut tak mampu lagi menampung makanan kami akan berkata ‘’Becur aku ga, Ite, Ame.’’ Kami sudah kenyang, Ma, Pa.

Bagaimana mungkin bisa aku lupakan. Dua bulanku di  Wae Sano. Sesekali Mama Mia akan membuatkan kue dari singkong. Atau juga Muku goreng alias pisang goreng sebagai teman sarapan. Momen memasak bersama Mama Mia dan Yudith adalah momen yang menyenangkan. Saling bercanda. Mama Mia dan Yudith juga sering berdebat ini-itu. Tapi itulah cara mereka bercengkrama dan menghangatkan hubungan. Tak jarang pula bergosip banyak hal. Dan momen memasak juga merupakan salah satu momen berbagi pengalaman dan cerita tentang kuliah-Jawa-Flores. Dengan canda dan tawa serta cerita khas Mama Mia.

Pernah satu pagi, aku dan Priska hendak berkunjung ke tetangga (tempat dimana 2 temanku tinggal). Kami belum makan, belum sarapan. Kami mengendap-endap keluar rumah. Aku lupa mengapa kami melakukan hal ini. Kemudian, Mama dari arah dapur memanggil kami.’’Enu, makan sudah, baru pesiar.’’ Kira-kira begitu kata-katanya. Priska langsung melempar kata ‘’ Iya Mama, itu Nuri, Ma..’’ *menuduh? Aku jadi bengong. Kamipun kembali ke rumah dan sarapan. Sambil bertanya-tanya, bagaimana bisa ketahuan?

Aku masih ingat. Malam sebelum tim KKN Wae Sano 2011 meninggalkan Wae Sano. Mama membuatkan telur dadar untuk sahurku. Di remang lampu minyak dan kepulan asap tungku. Sambil terisak. Air matanya meleleh. Dan semua itu membuatku bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa jika ada orang yang sedang menangis. Hanya berusaha menenangkan Mama Mia yang masih terus menangis. Kemudian membiarkannya hanyut dalam kesedihan yang menyayatku. Aku bertanya-tanya, kapan aku bisa kembali sekedar menjenguk keluarga ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s