Sekilas Sosok : Papa Sebas

Waktu menunjukkan pukul 5.00 pagi. Di timur matahari, kokok ayam jantan tak seramai desa kelahiranku. Nunang, salah satu kampung di Manggarai Barat, NTT. Kampong ini terletak persis di tepi Danau Sano Nggoang. Pada waktu sepagi ini di musim kemarau, langit masih terlalu gelap jika dibandingkan desa kelahiranku di pulau seberang.

Papa Sebas sudah bangun. Begitu juga aku. Setelah sholat subuh, terkadang aku tak bisa tidur lagi. Setiap pagi, papa Sebas menyiapkan makanan untuk ayam-ayam peliharaannya dan juga untuk Belang, Bleki, dan Manis. Belang adalah adik Bleki, mereka anjing. Sedangkan Manis adalah seekor kucing.

Setelah memberi makan mereka, Papa akan sibuk di kamar mandi atau di kebun dekat rumah. Kamar mandi itu terpisah sekitar 20 meter dari rumah, tepat berada di tengah kebun. Air kamar mandi berasal dari tempat penampungan air. Dan air dari tempat penampungan itu berasal dari mata air kecil di atas bukit. Biasanya, papa akan mengecek air di kamar mandi. Jika sudah berkurang, ia akan mengalirkannya dari bak penampungan. Air itu tidak mengalir melalui pipa seperti pada umumnya, namun melalui belahan bilah bamboo.

Papa Sebas adalah sosok pria yang tangguh. Kebanyakan orang di kampung Nunang memang tangguh. Aku tetap segan pada papa Sebas. Mulai dari caranya menjalani kehidupan, sampai pengalamannya menjadi asisten peneliti E. Schmutz. Dalam hal ini, namanyapun diabadikan dalam nama spesies pohon : Elaeocarpus sebastianii. Begitulah menurut papa. Masalahnya, aku tidak bisa menemukan sejarah penamaan pohon ini. Adalah satu kebanggaan untukku bisa mengenal papa Sebas. Dan satu hal yang aku sukai dari papa adalah rasa ingin tahunya. Papa sering meminjam buku panduan lapangan burung daerah wallacea yang aku bawa. Rasa ingin tahunya membuatku menemukan teman berbincang yang menyenangkan. Setidaknya, ada yang bisa kami bicarakan. Dan itu adalah ‘pengalaman penelitian’.

Papa Sebastian Sambung

Papa sangat bersemangat ketika bercerita tentang pengalamannya bersama pastur untuk mencari berbagai macam tumbuhan. Kemudian tumbuhan itu dikeringkan dan diawetkan. Istilah mudahnya dalam biologi yaitu dibuat herbarium.

Terlebih saat kami bersama-sama menjelajahi Poco Dedeng, cerita beliau bertambah. Menaiki puncak Poco Dedeng bersama kami juga menjadi cerita andalannya. Namun, ceritaku menjadi salah satu anggota keluarga Papa Sebas tak kalah menariknya. Sangatlah pas, aku yang suka mengamati burung, diharuskan menginap di rumah papa saat KKN. Jadi, kami punya bahan diskusi saat waktu senggang.

Aku masih ingat saat perpisahan. Senyum papa itu membuatku tak ingin pulang. Tapi, aku juga punya ”papa” yang sudah menantikan di rumahku. Yang jelas, keluarga Papa Sebas sudah kuanggap keluargaku juga. Begitu pula masyarakat Wae Sano. Bisa dikatakan, Wae Sano adalah kampung halaman kedua setelah tempat lahirku. I’ll miss u always Wae Sano… I’ll always miss u Wae Sano’s….

Puncak Poco Dedeng, 2011

4 thoughts on “Sekilas Sosok : Papa Sebas

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s