The History of “Everyday is Holiday in Menoreh”

Pagi itu, suatu pagi di dataran tinggi. Menoreh. Kata seniorku, everyday is holiday in Menoreh. Nyatanya memang seperti itu. Udaranya sejuk. Kicauan burungnya ramai.
Hari pertama pengambilan data vegetasi dan profil hutan (kebun tepatnya). Aku dan Panti menunggu 2 temanku datang, Nying-nying dan Ranny. Sembari menunggu, kami memutuskan untuk sekedar berkeliling. Dengan berkendara motor, kami berkeliling tak jelas. Sampai suatu tempat yang cukup indah, kami berhenti. Sekedar bercakap. Laluuuuuuu…… bayangan itu sangat jelas. Melintas tepat di atas kepala kami. Dua ekor OHB. Oh, tidak. Aku tidak membawa kamera. Sungguh kesalahan besar. Kami terpana dan tercengang. Indah sekali melihat burung terbang bebas di alam.

Tak lama kemudian kami kembali ke rumahnya Siti. Basecamp tetap kami. Nying-nying dan Ranny datang. Setelah sarapan dan istirahat sebentar, kami menuju tempat pengambilan data. Pertama-tama kami mengunjungi pemilik lahan untuk meminta ijin (lagi). Setelah itu, kami langsung bersiap-siap membuat plot 20×20 meter persegi. Plot 20×20 meter persegi-pun jadi. Kami membaginya lagi menjadi 4 kuadran. Barulah kami mengidentifikasi tumbuhan di tempat tersebut. Membuat herbarium, mengukur profil pohon, menggambar arsitektur pohon, menghitung cacah individu dari tiap spesies, dan mengukur parameter fisika-kimia.

Tanpa terasa sore telah datang. Pukul 17.00 WIB kami bergegas kembali ke basecamp dengan membawa oleh-oleh, data dan herbarium tentunya. Nying-nying dan Ranny pun tak tinggal hingga esok meskipun sebenarnya aku masih sangat membutuhkan mereka. Karena pekerjaan hari ini belum selesai. Namun, tak apa. Aku sangat berterima kasih karena mereka telah berkenan meluangkan waktu untuk membantuku. Di sela-sela keletihan hari itu, seniorku mulai menagih lagu.

Kami punya kesepakatan untuk membuat lagu. Tepatnya aku membuat lagu tentang Menoreh. Well, aku kesulitan mencari kata-kata. Akhirnya dibantu oleh Panti. Inti lagu itu adalah Everyday is Holiday in Menoreh. Plus, special request genre, reggae. Jujur, aku tidak terlalu memahami. Secara, aku hanya anak ingusan yang hobi nyanyi tak jelas sambil memegang gitar. Sama sekali bukan musisi atau orang yang pandai dalam hal ini. Akan tetapi, jadi juga lagu pesanan itu. Nyaris tengah malam aku membuat lagu itu. Not my first song, but my first reggae song. Entahlah, aku merasa malu untuk menyanyikannya. Suaraku pas-pasan pakai banget. Permainan gitarku juga tahap belajar.

Anyway, lagu itu tetap dianggap sebagai lagu. Merekamnyapun menggunakan kamera poket, music dari keyboard di rumah. Dan saat menyanyi, aku setengah berbisik karena saat itu sudah hampir tengah malam. Aku sangat berterima kasih, meskipun bukan karya yang bagus dan baik, tapi masih mau mendengarkannya. Semoga saja ada orang yang berkenan mengajariku not balok dan lain sebagainya sehingga aku bisa menciptakan lagu dengan baik dan benar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s