HUJAN ITU

Hujan itu, mengingatkanku pada memori yang aku lupakan tiap detik nafasku. Tiap tetesnya memainkan melodi tentang cita, cinta, harapan, dan asa. Citaku untuk mengarungi kehidupan lebih jauh dari sekarang. Cintaku kepada mereka yang ikut menyinari malamku dan menyanyikan lagu pengantar tidur. Harapan akan indahnya persahabatan dan perdamaian. Dan asaku untuk bersama seseorang yang kelak akan menjadi tempatku bersandar.

Hujan ini begitu tiba-tiba meskipun tanda-tandanya dapat aku rasakan sebelumnya. Menutupi langit biru dengan mendungnya, meniupkan angin dengan sepoinya, dan merebakkan aroma tanah basah ketika tiap tetesnya menitik.

Sore yang hujan ini entah kurasakan sebagai apa. Aku teringat kedua orangtuaku, sahabat semasa berjuang dalam peperangan pengetahuan. Diiringi lalu lalang orang. Satu diantaranya menjadi pikiran untuk beberapa waktu. Alasanku saat ini menulis adalah hujan dan dia. Saying sekali aku mengesampingkan orang paling berjasa dan justru menjadikan orang lewat sebagai inspirasi.

Hujan itu, basahnya, membuatnya Nampak segar. Tak layu lagi. Seperti bunga-bunga di taman di depan mataku. Sapaannya mengejutkan membuatku tersadar. Aku ingin menulis. Setidaknya itulah alasanku membuka halaman kosong ini dan mengisinya dengan huruf-huruf. Entah apakah akan bermakna atau tidak.

Air ini begitu sejuk nampaknya. Di kulitnya, di rambutnya, dan air yang mengalir menelusuri pipa-pipa. Namun, aku tahu. Kepeduliannya hanya sebatas ramah tamah seorang kawan. Sebagaimana aku tidak terlalu mengharapkan apapun. Hanya terkadang melihatnya membuatku merasa tenang. Namun tidak hanya dia. Beberapa orang membuatku tenang asalkan bisa melihat mereka.

Cahaya di sudut ruangan ini memang remang dan samar. Seiring berjalannya waktu menuju petang. Dimana matahari akan sejenak menghilang dari pandang.

Mengapa perasaanku terhadap beberapa orang bisa menjadi sama dalam beberapa hal? Aku berbalik menggunjing dalam hati untuk beberapa di antaranya. Aku rasa aku kehilangan logika dan ketenangan.

Ya Tuhan, aku selalu berdoa pada-Mu, doa seperti apapun, pasti aku panjatkan pada-Mu. Bukan yang lain. Tak pernah dan tak akan pernah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s