Taman Nasional Meru Betiri 3-5 Januari 2012


–BAB I : PERJALANAN & TUJUAN–

Sebelumnya mohon maaf apabila ada beberapa hal yang mungkin kurang berkenan maupun kurang sesuai. Karena saya sedang mengalami kenormalan, justru banyak hal detail yang terlupa. Bahkan hanya numpang lewat dalam ingatan. Sehingga apabila dalam 5 menit tidak ditulis, maka akan terlupakan. Saya menyebutnya in hurry short memory (secara ngawur diterjemahkan : ingatan singkat yang terburu-buru, hilang).

Taman Nasional Meru Betiri merupakan salah satu kawasan perlindungan hayati yang terletak di Kabupaten Jember dan Banyuwangi. Luas kawasan ini sekitar 58.000 ha. Bentang alamnya berbukit-bukit dan di bagian selatan merupakan pantai. Selain itu, di dalam kawasan taman nasional juga terdapat persawahan dan perkebunan. Beberapa desa juga menempati kawasan taman nasional ini.

Tiga serangkai (aku, Pipit, dan Mas Telo)berangkat dari secretariat diantarkan oleh 3 driver. Driver yang mengantar adalah Yayak, Kremi, dan Olon. Sedangkan satu teman lagi sudah menunggu di stasiun Lempuyangan, yaitu Septi. Namun, Septi hendak pulang kampung di Kediri. Sebelum berangkat ke stasiun, terlebih dahulu dilakukan ritual doa bersama di depan secret dan dilanjutkan dengan meneriakkan Vivat et Floreat. Ya, selalu berdoa semoga kegiatan apapaun itu, akan semakin maju dan berkembang.

Perjalanan dari Jogja menuju Jember ditempuh menggunakan kereta api ekonomi. Harga tiket per orang adalah Rp 35.000,-. Kereta berangkat dari Stasiun Lempuyangan pukul 07.30 WIB dan sampai di Stasiun Jember sekitar pukul 18.30 WIB. Dari Stasiun Jember menuju rumah Rusdi sekitar 15 menit menggunakan sepeda motor dengan kecepatan maksimal 60 km/jam. Sesampainya di rumah Rusdi, kami segera mandi dan makan. Sekaligus beramah-tamah. Setelah itu, kami beristirahat. Besok pagi, harus segera berangkat menuju Pantai Bandealit di Taman Nasional Meru Betiri.

Keesokan harinya, perjalanan menuju TNMB dimulai pukul 10.00 WIB dan sampai pukul 11.30 WIB menggunakan sepeda motor. Setelah melapor di pos jaga kami melanjutkan perjalanan menuju Bandealit ditemani seorang petugas bernama Pak Agus. Jalan yang dilewati kebanyakan adalah jalan batu yang menurutku hamper mirip seperti sungai dengan batu-batunya. Jarak antara pos jaga hingga Pantai Bandealit adalah 14 km dan ditempuh dalam waktu kurang lebih 1,5 jam. Otomatis, kami harus offroad sejauh itu. Dan tidak jarang harus turun dari motor karenanya.

Sebelum menuju ke monument, kami beristirahat sejenak di Resort Bandealit. Kemudian melanjutkan perjalanan lagi sekitar 3 km. Sesampainya di monument, kami segera membersihkan dan menunaikan tugas untuk mengecat tulisan. Aku merasa, mimpiku menjadi kenyataan. Dulu aku sering bertanya-tanya kapan bisa mengunjungi monument ini. Dan saat ini, aku berdiri di sampingnya. Sekedar untuk mengingatkan pada diriku. Bahwa alam bukan untuk ditaklukkan, namun untuk dimengerti, dipelajari, dan dijadikan sahabat.

Kedua nama yang tertulis dalam monument tersebut adalah seniorku. Mereka meninggal ketika sedang menjalankan ekspedisi. Yah, sehati-hati apapun kita, jika alam dan Tuhan berkehendak lain, kita tidak tahu apa yang akan terjadi bukan? Tapi tetap berusaha safety bukanlah kesalahan melainkan keharusan. Kalau yang sudah safety masih bisa celaka, bagaimana dengan yang sembrono?

Setelah selesai mengecat kami menuju pantai. Kemudian kami makan siang di sore hari. Dan dome kuningpun berdiri di pendopo. Tempat kami berlindung untuk 3 hari 2 malam.

Ini baru BAB I, BAB II akan menyusul secepat keong berlari menggunakan gastro-muscle-nya.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s