Bersama Tak Berarti Sama

Aku semakin tahu. Bahwa, hidup ini terlalu berwarna-warni. Beserta beragam cerita yang menghiasinya. Mulai dari drama tersedih, hingga masa bahagia yang luar biasa. Mungkin, sampai saat ini akupun menganggap aku terlalu polos untuk mendeklarasikan bahwa aku cukup mengerti  semua yang ada di dunia ini. Namun, aku mencoba memahaminya. Entahlah, bahkan aku tak mengerti dengan apa yang sedang kutuliskan.

—Dijatuhkan Bersama—

Kami terlalu sering dijatuhkan bersama-sama. Kami terlalu sering merangkak naik bersama-sama. Tapi itu saat kami dalam kondisi terdesak dengan tekanan alam liar. Sangat berbeda dengan alam manusia modern. Beberapa dari kami terjatuh. Beberapa mencoba merangkak naik. Beberapa tetap diam. Dan beberapa yang dulu ikut dijatuhkan, berbalik menjatuhkan. Dan bahkan lebih parah. Mencari kesenangan lain dan pergi saat yang lain itu terpuruk sangat. Dengan harapan tidak ikut terpuruk, mereka pergi dan berlari. Sungguh fantastis!!!

—Tertawa Bersama—

Kamipun teralu sering tertawa bersama. Hingga suatu saat, sebagian dari kami tetap tertawa. Padahal di sisi lain, beberapa dari kami terseok dalam selokan air mata dan luka. Tragis memang.

—Tenggelam dalam Emosi dan Amarah, Bersama—

Saat semuanya memuncak sampai entah puncak mana. Kadangkala, amarah yang entah muncul darimana, dia meledak dahsyat. Dia yang marah karena lelah fisiknya, akhirnya membuat marah dia yang lelah hatinya.

”Aku lelah karena berjalan ribuan kilometer, demi kalian!!!” pekiknya.

”Akupun lelah karena memikirkan kalian, hingga tidak bisa tidur selama 3 hari 3 malam!!!” teriaknya.

Lalu masing-masing orang yang sedang marah itu, justru memancing emosi pada yang lainnya. Dia yang lelah hati, pikiran, dan fisik. Hingga tergeletak di rumah sakit dan di infus.

”Kalian diamlah, masih mending kalian masih sehat!!!” sahutnya.

Yang lain menjadi penonton. Ada yang diam karena tidak ingin membuat suasana semakin tak menentu. Yang lain tetap tertawa keras karena merasa semua itu sangat lucu, sambil bernyayi lantang pada dunia. Yang lain menenangkan para orang yang marah. Yang lain menenangkan diri, memikirkan rencana perbaikan untuk masa depan dan agar tidak terpancing emosi. Sambil menahan sakit :”Mengpa kawan-kawanku terpecah belah hanya karena hal seperti ini??”

———————————****—————-

Semua dilalui bersama. Namun dengan rasa yang berbeda dan cara bersikap yang berbeda. Tekanannya pun tak sama untuk tiap individu. Tergantung cara menyikapinya. Apakah bijak, apakah terlalu serius, apakah tanpa dipikirkan, apakah disepelekan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s