Kembali Aku Acuhkan

Apa??

Apa yang aku lakukan, oh Tuhanku?? Rasa-rasanya aku habiskan waktuku yang terus bergulir ini dengan butir-butir ketidakmanfaatan. Aku membiarkannya berlalu. Menumpuk semua beban di pundak hingga membumbung sampai angkasa sana. Sedangkan pikiranku ini selalu saja kacau akan banyak hal, atau bahkan hanya sedikit hal saja.

Setiap perkara yang muncul membuatku berpikir dan bertanya-tanya. Dan itu selalu dan selalu menggangguku saat aku tidak ingin memikirkannya. Bukan sesuatu yang besar, bukan hal penting. Tapi, sungguh, oh Tuhanku, aku merasa sangat terganggu. Seperti membawa sekantung durian busuk kemanapun aku berjalan.

Mengapa??

Mengapa aku bisa seperti ini, Ya Rabb Yang Maha Mengetahui??? Aku bahkan nyaris tak mengenali diriku sendiri sekarang. Semua yang aku lakukan serasa palsu. Kadang demi ini, terkadang demi itu. Aku kembali bertanya pada diriku, adakah aku menjalani hidupku demi orang-orang terkasih yang memang pantas aku sayangi seumur hidupku, kedua orangtuaku dan adikku. Aku ragu. Benarkah aku manusia yang hidup? Ataukah hanya manusia mati yang bernafas namun tak punya rasa dan asa??

Aku benci pengkhianatan. Ataukah hanya aku merasa demikian? Dikhianati? Ataukah aku iri? Tapi apa kalimat lain dari : Mereka pergi bersama-sama tanpa mengajakku dan mengesankan ”jangan ikut” padaku. Mereka mengikatkan diri mereka dan berkerumun seperti itu saja, pergi ke ujung lorong dan asyik berbincang sedangkan aku menunggu jawaban atas pertanyaanku pada salah satu di antara mereka.

Apakah aku iri? Atau semua hanya perasaanku saja. Sehingga aku meramalkan apa yang terjadi. Berprasangka. Menafsirkan sendiri tanpa meminta klarifikasi. Masalahnya adalah, bukan hanya aku yang merasakan hal ini. Bukan satu atau dua atau tiga anak manusia. Meskipun kami yang merasa demikian, memiliki tingkatan toleransi yang berbeda dan penafsiran yang berbeda tentang hubungan antar-sahabat.

Sahabat…..

Lagi-lagi kata inilah yang membuatku semakin tak menentu. Benarkah pemikiranku Ya Rabb, bahwasanya yang terlebih dahulu kukenal belum tentu sahabat terbaikku yang sangat mengenalku. Dan belum tentu juga sebaliknya?? Jika iya, aku harus berbuat apa? Jika tidak, entah aku harus apa.

Buntu…

Tidak seperti usus buntu yang bisa dioperasi jika ia sakit atau infeksi. Pikiran yang buntu itu lebih rumit dan kompleks seperti suksesi yang mencapai klimaksnya. Ya Rabb, mengapa tidak ada kemauan dariku untuk menyelesaikan pengajuan penyelidikan ini?? Hanya pengajuan saja sangat tak terperi beratnya untuk ku selesaikan. Aku di jalan buntu. Aku melihat jembatan di seberang jalan. Jembatan penghubung jalan buntu ini dengan jalan berikutnya. Namun, dia patah di tengah. Apakah aku harus melompat, meloncat, atau terbang?? Ataukah kuperbaiki jembatan itu? Atau kulemparkan tali seperti cowboy, atau???

Acuh…

Kembali aku acuhkan…

Demi hal lain yang tak bisa kuacuhkan…

Karena di dalamnya aku dapatkan teman dan semangat..

Namun berat untuk menjalani keduanya bersamaan…

Ya Rabb…. rasanya aku ingin mencurahkan semua air mata…

Namun kemarau panjangpun kiranya terjadi di kelenjar lacrimale-ku..

Aku… kembali mengacuhkannya….

Aku tak mau, tapi ini yang terjadi…

Tolong aku Tuhanku, Kau Rabb Yang Maha Besar dan Maha Kuasa….

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s