BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA

 

Himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya dapat kita dijumpai dimana-mana. Mulai dari kantor-kantor, lorong rumah sakit, lorong ruang kuliah, jalan, bahkan di tempat sampah itu sendiri. Membuang sampah pada tempat sampah bukan hal yang sulit. Kita hanya perlu membiasakan diri saja. Jika sudah terbiasa, bahkan sampah sekecil apapun tidak akan kita buang sembarangan. Minimal, ketika di tempat kita berada tidak ada tempat sampah, kita akan menyimpan sampah tersebut dan baru membuangnya saat menemukan tempat sampah. Namun hal ini berbeda bagi yang tidak terbiasa membuang sampah di tempat sampah. Sampah sebesar apapun akan dengan enteng dan mudahnya dibuang dimana saja, di jalan raya misalnya. Mengenaskan memang.

Tapi, saya tidak akan bercerita banyak tentang sampah dan tempat sampah dalam arti yang sebenarnya. Saya akan mengeluh di sini. Karena saya pikir, saya akan merasa lebih tenang. Setidaknya begitu perasaan saya yang saya ramalkan setelah menuliskan ini.

Bagaimana rasanya menjadi sebuah tempat sampah? Setiap sampah dan apapun itu dikeluarkan dan dibuang ke muka kita. Mengetahui sisi hitam dan putihnya. Mengetahui banyak perasaan. Bahwa, ada dua kubu yang saling berseberangan. Bahwa, saya tidak bisa terlepas dari keduanya. Bahwa, keduanya membicarakan ini-itu tentang masing-masing kubu.  Saya akan menyebut kubu yang satu sebagai kutub selatan, dan satu lainnya kutub utara. Dan saya sendiri khatulistiwa. Ini hanya sekedar penamaan.

Pada suatu hari, khatulistiwa sangat dengan dengan kutub selatan. Kutub selatan menceritakan banyak hal tentang perasaannya terhadap kutub utara. Tentang rasa lelah, keluhan letih, terlalu banyak berkorban, dan semua hal. Dan membawa khatulistiwa dalam kesimpulan pahit : kutub selatan lelah dan bosan, kutub utara tidak tahu diri. Sejak saat itu, khatulistiwa mulai menghibur kutub selatan. Dan sedikit ikut menyalahkan kutub utara. Khatulistiwa sangat berpihak. Sangat tidak menyenangkan.

Pada suatu hari lainnya. Kutub utara ingin berbicara dengan khatulistiwa. Akhirnya mereka saling bicara. Kutub utara mengeluhkan banyak hal berkaitan dengan kutub selatan. Bagaimana perlakuan kutub selatan yang tidak menganggap keberadaan kutub utara, bagaimana pandangan kutub selatan terhadap kutub utara, dan perasaan kutub utara yang merasa dipandang sebelah mata dan tidak dipercaya. Khatulistiwa mendengarkan dengan cermat. Menyampaikan kemungkinan terbaik dengan tetap menjaga hubungan kutub utara dan kutub selatan. Bahwa, mungkin yang dimaksud kutub selatan adalah begini bukan begitu. Masih memihak? Bukan demikian. Ini hanya menjaga emosi. Tetap berprasangka baik istilahnya.

Khatulistiwa mengalami kerisauan tingkat akut saat ini. Di mengetahui ini dan itu dari kedua kutub yang merupakan sahabatnya. Dan tak mampu menanganinya sendiri. Sedangkan khatulistiwa adalah non-blok di antara dua blok. Mungkin dia tidak sendiri. Tapi mencari jalan keluar akan perpecahan ini bukanlah hal mudah. Khatulistiwa akan menjadi tersangka pemecah belah karena membiarkan semuanya berlangsung padahal mengetahui banyak hal. Namun daya apa? Jika kedua kutub ini sama kerasnya. Sama merasa lelahnya. Sama bencinya. Akhirnya jika kedua kutub saling beradu, khatulistiwalah yang pertama hancur lebur. Paling tidak, sekarang hatinya sudah hancur. Dengan satu cita bersama kedua kutub, yaitu menyatukan dunia. Namun, para pemersatu ini terpecah belah. Bagaimana caranya? Jika sudah tidak seia sekata. Bagaimana bisa, jika semuanya dilandasi rasa sakit hati??

Apa yang harus khatulistiwa lakukan? Dia tahu, tapi tidak yakin bisa melakukannya. Posisinya terlalu lemah dan berbahaya. Meskipun dua kutub ini adalah sahabatnya, berada di satu bumi yang sama. Khatulistiwa yang menjadi tempat sampah sangat kebingungan, kemana sampah-sampah yang ditampungnya harus dia buang. Dia ingin memperbaiki sampah-sampah ini dengan cara Reduce, Reuse, Recycle. Dia butuh bantuan nyata. Karena cita bersama ini akan menjadi omong kosong semata jika pemersatu tidak bersatu. Khatulistiwa membutuhkan manusia-manusia kreatif dan solutif. Untuk mendaur ulang sampah dan mempersatukan kembali dua kutub ini.

Maka, mari membuang sampah pada tempatnya. Dan kita bisa berbuat lebih terhadap sampah-sampah ini dengan mendaur ulang.

 

*sangat aneh ya? Apa hubungannya sampah, khatulistiwa, dan kutub utara dan selatan?? Mungkin ada satu kesamaan, mereka berada di bumi yang sama. Begitulah setidaknya.

 

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s